Indonesia Miliki Program Aksi Pertanian Cerdas di Lahan Kering

Pertanianku— Indonesia memiliki beberapa pengalaman dalam mengelola pertanian di lahan kering untuk mendukung ketahanan pangan. Pengalaman tersebut disampaikan dalam “The International Virtual Workshop on Water, Energy, Food Nexus” secara virtual.

lahan kering
foto: pixabay

Dilansir dari litbang.pertanian.go.id, pertemuan tersebut dibuka oleh Prof. Sulaiman Ali Al-Khateeb yang menyampaikan bahwa negara-negara peserta Konferensi G-20 ini memiliki peran besar dalam menjaga keberlangsungan sistem pangan, air, dan energi secara bijaksana.

Melalui acara ini diharapkan mampu memperkuat networking antarnegara sehingga keberlangsungan pengelolaan dan penyediaan pangan, air, dan energi dapat selalu berkesinambungan.

Loading...

The International Virtual Workshop on Water, Energy, Food Nexus diikuti oleh 20 negara. Pertemuan tersebut akan berlanjut pada pertemuan ministerial yang akan berlangsung pada 10—12 September 2020.

Acara tersebut turut dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Pertanian, di antaranya Kepala Balai Penelitian Tanah (Balittanah) Dr. Ladiyani Retno Widowati, Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi (Balitklimat) Dr. Harmanto, dan Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB Biogen) Dr. Hoerudin, serta Biro Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Pertanian Danang Budi Santoso.

Perwakilan Kementan memaparkan bahwa salah satu upaya dalam sistem pertanian cerdas ialah pengolahan air yang menggunakan teknologi panen air di musim hujan dan selanjutnya dapat dimanfaatkan melalui irigasi hemat air di musim kemarau. Hal tersebut cukup penting dan terbukti mampu meningkatkan indeks pertanaman dan produksi pangan serta hortikultura untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Inovasi lain yang dimiliki oleh Indonesia adalah penggunaan benih unggul yang toleran terhadap kekeringan, pengelolaan hara tanaman, tanah salin, penggunaan drone pestisida nabati, serta aplikasi pertanian cerdas lainnya seperti irigasi tenaga surya yang dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan.

Baca Juga:  Bantuan Teknologi Tepat Guna untuk Meningkatkan Produktivitas Nelayan

Selain itu, Indonesia juga sudah menerapkan penanganan pascapanen yang lebih baik untuk meminimalisir adanya produk pertanian yang terbuang karena penanganan yang tidak tepat.

Dr. Ladiyani menyampaikan beberapa program aksi adaptasi untuk pangan dan hortikultura, di antaranya dengan menggunakan varietas yang adaptif terhadap perubahan iklim serta padi yang tahan salin, tahan rendaman, dan tahan kekeringan.

Selanjutnya, Dr. Harmanto memberikan penjelangan mengenai sistem budidaya yang dilaksanakan pada musim kemarau, terutama di akhir periode irigasi. Program tersebut merupakan salah satu program pendukung yang sangat adaptif di musim kemarau.

 

Loading...
Loading...