Indonesia Siap Mengembangkan Kecanggihan Bioinformatika untuk Deteksi Penyakit Hewan

Pertanianku — Indonesia memiliki keunggulan di bidang bionformatika. Hal ini terbukti dari disetujuinya Balai Besar Veteriner Wates sebagai Pusat Rujukan Regional Bioinformatika Veterinar (Regional Reference Center for Bioinformatics) tingkat ASEAN. Bioinformatika merupakan alat untuk menggambarkan sifat atau ciri dan dinamika biologi makhluk hidup, termasuk agen atau mikroorganisme yang berpotensi menyebabkan wabah penyakit hewan, tanaman, dan manusia.

bioinformatika
foto: Pertanianku

Bioinformatika bisa digunakan untuk menentukan dan mengarakterisasi pola kejadian penyakit secara molekuler dan epidemiologi. Dengan teknologi, karakteristik agen penyakit dapat dilakukan lebih komprehensif sehingga pengendalian penyakit lebih efisien dan efektif.

Kepala Balai Besar Veteriner Wates, Hendra Wibawa, menjelaskan, BBVet Wates telah menggelar pelatihan bioinformatika untuk laboratorium kesehatan hewan se-ASEAN. Sebelumnya, BBVet Wates juga sudah mensosialisasikan penerapan bioinformatika untuk monitoring virus influenza (flu burung) di Indonesia kepada delegasi kelompok kerja teknis avian Influenza di ASEAN pada 2018 silam.

“BBVet Wates sudah menjadi laboratorium referensi nasional untuk flu burung dengan penunjukan Menteri Pertanian. Selain itu, laboratorium ini juga memimpin jejaring laboratorium tingkat nasional dalam monitoring virus influenza atau Influenza Virus Monitoring in Animal (IVM) dan telah dilengkapi dengan platform data elektronik berbasis web, yaitu IVM Online,” terang Hendra Wibawa seperti dikutip dari laman ditjenpkh.pertanian.go.id.

Saat ini hasil IVM telah digunakan oleh Pemerintah untuk menetapkan kebijakan vaksinasi Avian Influenza.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah, mengapresiasi keunggulan BBVet Wates yang sudah berhasil berkiprah di ASEAN. Kesehatan hewan merupakan salah satu topik penting yang dibahas dalam pertemuan tingkat Menteri Pertanian, Menteri Perikanan, dan Menteri Kehutanan ASEN yang dilaksanakan pada 27 Oktober 2021.

“Kecepatan deteksi penyakit hewan sangat penting untuk bisa memitigasi, mencegah, dan menanggulangi penyakit hewan agar tidak tersebar luas. Hal ini secara tidak langsung akan meningkatkan kepercayaan negara lain terhadap produk-produk peternakan Indonesia. Harapannya tentu peningkatan ekspor untuk produk peternakan Indonesia,” papar Nasrullah.

Baca Juga:  Balsam Pala Fakfak Hasil Inovasi yang Menambah Nilai Ekonomi Komoditas

“Negara anggota ASEAN sepakat memperkuat mekanisme regional dalam mencegah, mendeteksi dini, dan tanggap terhadap penyakit hewan dan zoonosis yang berpotensi pandemi. Kita harus lebih banyak berperan serta terkait hal ini, meskipun selama ini peran Indonesia di bidang kesehatan hewan sudah cukup dominan,” pungkasnya.