Indonesia Siap Produksi Energi Biomassa untuk Mitigasi Perubahan Iklim

Pertanianku— Pemerintah terus mendorong transformasi dua sektor pokok, yaitu energi dan kehutanan serta tata guna lahan atau forestry and land use (FOLU). Selama ini kedua sektor tersebut menjadi penyumbang emisi gas rumah kaca yang menyebabkan perubahan iklim. Namun, kedua sektor tersebut juga bisa menjadi mitigasi perubahan iklim dengan memproduksi energi biomassa.

energi biomassa
foto: Pixabay

Energi biomassa merupakan bahan bakar yang dibuat dengan mengubah bahan-bahan organik, mulai dari batang pohon, cabang, ranting, hingga limbah usaha pertanian atau perkebunan (jerami, batok kelapa pelepah sawit, dan sisa-sisa bahan dari areal hutan tanaman industri pemasok bahan industri kertas dan pulp). Bahan-bahan organik tersebut bisa diolah dengan berbagai teknologi.

Salah satu teknologi yang digunakan adalah gasifikasi (gasifikasi fluidized bed), yakni proses pengubahan secara termokimia untuk menjadikannya gas atau gas cair untuk pembangkit listrik.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Dwisuryo Indroyono Soesilo, mengatakan, usaha kehutanan siap mendukung penggunaan biomassa untuk bahan bakar listrik.

“Potensi biomassa di negeri kita ini sangat besar,” ujar Indroyono seperti dilansir dari laman Indonesia.go.id.

Indroyono Soesilo menjelaskan, area hutan produksi yang sudah dialokasikan sebagai hutan tanaman energi (HTE) di Indonesia mencapai hampir 1,3 juta hektare dan ada sekitar 32 unit bisnis yang siap mengusahakannya. Kawasan HTE tersebut merupakan modal awal yang cukup besar untuk memasifkan energi biomassa.

Saat ini sudah ada 34 perusahaan anggota APHI yang menyatakan minatnya untuk berinvestasi di bidang biomassa. Bahkan, beberapa di antaranya sudah memasukkannya ke rencana bisnis.

Namun, pemanfaatan bahan organik menjadi sumber energi tergolong masih terbatas. Melansir dari laman Indonesia.go.id, ketersediaan bahan organik masih menyebar di berbagai tempat sehingga perlu upaya ekstra untuk mengumpulkannya dalam satu tempat. Pengumpulan tersebut dapat mengakibatkan biaya logistik meningkat.

Baca Juga:  Kementan Minta Pemda Proteksi Harga TBS Pekebun

Wakil Ketua Kadin Pusat Bidang Industri, Bobby Gafur Umar, menilai pemanfaatan HTE untuk menghasilkan wood chip dan pelet akan lebih menjanjikan.

“Kami yakin, potensi besar biomassa ini, terutama dari HTE, akan bisa berperan besar dalam proses transisi energi di Indonesia,” kata Bobby.

Luas lahan usaha Hutan Tanaman Energi ditargetkan akan terus bertambah. Pada 2024 jumlahnya ditargetkan mencapai 67.000 hektare. Menurut Bobby, luas tersebut masih sangat mungkin ditambah untuk menampung investasi. Potensinya bisa mencapai USD52,1 miliar.

“Ini luar biasa. Bisa hasilkan listrik 32,6 Giga Watt dan mampu menyerap sedikitnya 12 juta orang tenaga kerja,” tutur Bobby.