Indonesia Tak Selamanya Impor Daging, Kementan: Ini Hanya Bersifat Sementara


Pertanianku – Indonesia memang kerap melakukan impor daging sapi guna memenuhi kebutuhan masyarakat di pasaran. Hal ini karena ketersediaan daging sapi lokal pada tahun ini belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita menegaskan bahwa impor daging yang dilakukan pemerintah Indonesia hanya bersifat sementara.

Berdasarkan prognosa, produksi daging sapi di dalam negeri 2017 sebesar 354.770 ton, sedangkan perkiraan kebutuhan daging sapi di dalam negeri tahun 2017 sebesar 604.968 ton. “Sehingga, untuk memenuhi kekurangannya perlu melakukan impor, baik dalam bentuk impor sapi bakalan maupun daging,” Kata I Ketut Diarmita, seperti dilanir dari Republika, (13/6).

Ketut mengungkapkan bahwa impor daging yang dimaksud juga mencakup daging kerbau impor yang dilakukan melalui penugasan dari pemerintah kepada Bulog tidak bertujuan untuk mengguncang harga daging sapi lokal. Namun, sebagai alternatif kepada masyarakat yang belum bisa menjangkau harga daging sapi.

“Pemerintah memastikan, dengan adanya kebijakan impor daging beku asal India tersebut tidak akan menimbulkan distorsi harga dan tertekannya harga ternak lokal yang menyebabkan menurunnya pemotongan sapi lokal di Rumah Potong Hewan (RPH),” ungkapnya lagi.

Berdasarkan informasi perkembangan harga yang dihimpun oleh Petugas Informasi Pasar (PIP) terutama di daerah sentra produsen, yaitu sembilan Provinsi seperti Sumatera Barat, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan, harga sapi hidup pada Mei dibandingkan dengan April di beberapa daerah sentra produksi mengalami peningkatan rata-rata 0,28 persen.

Penurunan harga pada periode yang sama terjadi di Jawa Tengah (-0,79 persen), Jawa Timur (-0,33 persen), NTT (-1,24 persen), dan Sulawesi Selatan (-0,2 persen).

Baca Juga:  Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Perbatasan dengan Budidaya Lele Sistem Bioflok

Dengan digelontorkannya daging kerbau impor, harga daging sapi segar tetap bertahan di angka Rp110.000—Rp120.000 per kilogram (kg). Harga tersebut dianggap masih wajar dan tetap memberikan keuntungan bagi para peternak sapi lokal. Sementara itu, untuk harga sapi lokal di berbagai daerah sentra produsen masih Rp40.000 hingga Rp47.000 per kg berat hidup, tergantung kondisi sapi.

Dengan kisaran harga tersebut, peternak lokal masih mendapatkan keuntungan. Selain itu, berdasarkan laporan dari UPTD RPH, biasanya menjelang tujuh hari sebelum lebaran pemotongan akan meningkat 5—10 kali dari pemotongan harian. Sebab, masyarakat banyak membutuhkan daging sapi segar.

Ia mengungkapkan, saat ini distribusi daging kerbau impor yang dilakukan oleh Perum Bulog diprioritaskan hanya untuk daerah-daerah sentra konsumen dan dapat diedarkan ke daerah lain. Namun, dengan catatan tidak ada penolakan dari Pemerintah Daerah setempat. “Impor tersebut untuk memenuhi kebutuhan, sementara sapi-sapi milik peternak dapat berkembang biak dengan baik,” tutup Ketut.

loading...
loading...