Industri Perkebunan Perlu Terapkan Teknologi, Ini Kata JK


Pertanianku – Industri perkebunan Indonesia bisa dikatakan cukup produktif guna mendongrak ekonomi negara ini. Namun, ada satu tantangan pada sektor tersebut menurut Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, yakni adanya keterbatasan lahan perkebunan dan pertanian, yang berakibat terjadinya ledakan jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan industri.

Foto: pixabay

Berdasarkan fakta, kondisi tersebut sesuai dengan Teori Malthus, dimana perkembangan produksi tidak seimbang dengan perkembangan kebutuhan manusia terhadap pangan. Menurut Jusuf Kalla, salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan ini, yakni melalui perbaikan teknologi.

“Tantangan kita sekarang dengan konsumen yang naik terus, tapi di lain pihak lahan berkurang karena (permasalahan) lingkungan hidup, iklim berubah, maka solusinya perbaikan teknologi, cuma itu saja,” terang pria yang kerap disapa JK, usai Peresmian Pembukaan World Plantation Conferences and Exhibition 2017 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, seperti diberitakan Republika (18/10).

Adanya perbaikan pada sektor tersebut penting dilakukan karena menyangkut prekonomian bangsa ini. Pasalnya, sejumlah hasil komoditas perkebunan di antaranya kelapa sawit dan kopi menyumbang pendapatan ekspor bagi Indonesia.

JK mengatakan, riset pengembangan riset teknologi tidak perlu menggunakan anggaran ataupun subsidi pemerintah. Sebab, riset bisa dilakukan secara gabungan antarperkebunan, baik milik swasta maupun BUMN.

Untuk itu, pria yang telah dua kali menjabat sebagai Wakil Presiden itu menegaskan, pemerintah mengeluarkan subsidi hanya diberikan untuk komoditas tanaman pangan.

Perbaikan teknologi perkebunan dibutuhkan untuk mengatasi ketidakseimbangan antara ledakan jumlah penduduk dan luas lahan ataupun produktivitas. Dalam pidatonya Jusuf Kalla mengatakan, apabila pada 2050 jumlah penduduk dunia mendekati 10 miliar orang, maka kebutuhan terhadap makanan dan juga hasil perkebunan akan meningkat sekitar 70 persen.

Ia pun mengatakan bahwa menurut sejarah, Indonesia pernah menjadi negara pengekspor hasil perkebunan terbesar. Bahkan, Indonesia pernah menjadi pengekspor gula terbesar sekaligus memiliki lembaga penelitian gula terbaik dunia.

Baca Juga:  Kebun Binatang Bandung Melepasliarkan 40 Burung Jalak Kebo

Seiring dengan berjalannya waktu, Indonesia kini tidak lagi menjadi negara pengekspor gula tapi pengimpor gula.

Menurutnya guna meningkatkan hasil produksi perkebunan tidak hanya dibutuhkan teknologi, tapi juga disiplin masyarakat. Kedisiplinan yang dimaksud, yakni bertanam sesuai waktu di lahan yang cocok, tidak merambah hutan, dan tidak membuka lahan perkebunan di area perbukitan karena dapat menyebabkan tanah longsor.

loading...
loading...