Ini Dia Jenis Baru Nemo, Ikan Hias Primadona Ekspor


Pertanianku — Ikan nemo kini menjadi ikan hias yang sangat populer. Ikan hias primadona ekspor ini membuat banyak pecinta ikan hias rela mengeluarkan uang yang tak sedikit jumlahnya, termasuk para pecinta ikan hias di Indonesia.

Ikan hias primadona ekspor
Foto: Pixabay

Karena kepopulerannya lewat film Hollywood Finding Nemo, menjadikan ikan nemo menjadi salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi. Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sejak beberapa tahun terakhir terus mengembangkan ikan lucu itu.

Sebelum film Finding Nemo terkenal, ikan itu dinamai ikan giru atau ikan badut (clown fish) yang termasuk anak suku Amphiprioninae dalam suku Pomacentridae. Ikan giru terdiri atas 28 spesies yang bisa dikenali, sebagian besar dalam genus Premnas. Sementara sisanya, masuk dalam genus Amphiprion.

Ikan hias ini berasal dari lautan Pasifik, Laut Merah, lautan India, dan karang besar Australia (great barrier reef). Di habitat asli, ikan giru dikenal berwarna memikat seperti kuning terang, oranye, jingga, kemerahan, hingga kehitaman. Ukurannya dari 6 cm sampai maksimal 18 cm.

Karena permintaan ekspor yang tinggi, KKP melakukan inovasi teknologi untuk ikan giru dengan melakukan diverfisikasi produk komoditas, yaitu dikembangkan sampai 14 jenis ikan badut.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan, introdusir varian dan corak ikan hias itu berdampak positif bagi geliat bisnis ikan hias nasional. Ini terkait preferensi konsumen ikan hias yang sangat bergantung pada nilai estetika dari jenis ikan hias tersebut.

Dengan bertambahnya varian jenis ikan giru dari Indonesia, membuka peluang besar untuk bersaing dalam bisnis perdagangan ikan hias di tingkat dunia.

“Kalau bicara SDA (sumber daya alam) dan potensi ikan hias Indonesia, kita punya daya saing komparatif yang tinggi, ini harus kita manfaatkan untuk tingkatkan daya saing kompetitif di level global,” ujarnya.

Baca Juga:  Crown Tail, Ikan Cupang yang Bisa Atasi Demam Berdarah

Keberhasilan mengembangkan 14 varian baru, tak lepas dari kerja keras Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon yang melaksanakan metode perekayasaan dengan teknik kawin silang (cross breeding) dari berbagai jenis induk dari alam sampai menghasilkan ragam corak ikan yang indah dan diminati pasar.

“Yang menjadi unik, masing-masing varian memiliki tingkatan nilai jual sendiri-sendiri, sesuai dengan permintaan pasar,” ungkap Slamet.