Ini Metode Bercocok Tanam yang Cocok untuk Generasi Milenial


Pertanianku – Mayoritas usia petani di Indonesia saat ini lebih dari 40 tahun. Padahal, sektor pertanian saat ini membutuhkan generasi muda yang dianggap lebih mumpuni guna mewujudkan kedaulatan pangan tanah air.

Foto: twenty20

Kenyataannya, generasi muda tidak banyak tertarik menjadikan profesi petani sebagai ladang usahanya. Hal ini karena banyak anak muda menilai menjadi seorang petani tidak akan membuatnya menjadi sukses. Padahal, pemikiran tersebut salah.

Belakangan ini metode pertanian hidroponik hadir dan mampu membangkitkan minat generasi muda menjadi seorang petani modern dengan pendapatan yang fantastis.

Sistem pertanian ini diyakini mampu menjadi solusi untuk menarik minat generasi milenial tersebut. Sebab, menurut Kepala Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang Bandel Hartopo menjelaskan, pertanian hidroponik ini sangat jauh dari kesan kumuh.

Pasalnya, pertanian hidroponik tak lagi membutuhkan tanah sebagai media utamanya. Hanya dengan memanfaatkan pipa paralon yang ditata sedemikian rupa, tanaman dapat tumbuh dengan baik. Namun, perlu dipastikan adanya aliran air dan nutrisi ke tanaman karena dua komponen ini menjadi kunci dalam pertanian sistem hidroponik. Media tanam yang digunakan pun bukan lagi tanah, melainkan arang sekam, spons, ataupun expanded clay.

Pemanfaatan pertanian sistem hidroponik tidak memerlukan lahan luas untuk penerapannya. Oleh karena itu, cara ini juga bisa diterapkan bagi masyarakat kota yang ingin bercocok tanam.

“Inilah salah satu yang bisa mengatasi petani gurem dan pertanian di kota yang memiliki keterbatasan lahan,” jelasnya.

Banyak tanaman yang bisa tumbuh baik melalui hidroponik, tentunya, bukan tanaman berbatang besar. Tanaman yang dapat tumbuh dengan sistem ini adalah tanaman sayuran dan buah seperti tomat, paprika, cabai, tanaman sayuran daun, melon, dan sebagainya. Nilai jual produk hasil hidroponik pun jauh lebih tinggi.

Baca Juga:  AS Punya Apel Hasil Rekayasa Genetik

Sebagai contoh, Bandel menjelaskan, tanaman selada yang ditanam dengan cara hidroponik memiliki nilai tinggi karena tidak bersentuhan dengan tanah. Hal tersebut membuat tanaman selada jauh lebih bersih dibanding tanaman serupa dengan pertanian biasa.

“Bentuknya menarik untuk dimakan,” ungkapnya.

Sistem hidroponik ini rupanya menarik mahasiswa asal Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maria Garebi Banafanu. Mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Kupang ini bertolak dari tempat asalnya untuk mempelajari hidroponik di BBPP Lembang. Di Kupang sana, ia menceritakan, dalam jumlah terbatas sistem hidroponik telah diterapkan meski tidak maksimal.

Tanamannya kerdil karena terlalu panas, ujar perempuan 21 tahun tersebut. Ia menambahkan, mayoritas di NTT tanaman yang telah dimanfaatkan untuk hidroponik adalah tomat, cabai, paprika, dan melon. Menurutnya, yang menempuh magang selama dua bulan di BBPP Lembang, masalah tersebut terjadi karena screen house yang tidak bagus.

Idealnya, kata dia, suhu dalam screen house atau rumah kaca bisa diatur pada angka 23 derajat Celsius. Sementara, suhu di Kupang mencapai 31 hingga 32 derajat Celsius.

“Seharusnya screen uv di-double,” ujarnya.

Screen uv tersebut memiliki kemampuan mengurangi intensitas yang masuk sehingga diharapkan dengan penambahan screen uv akan mampu menyaring sinar uv yang tinggi di Kupang dan membuat kondisi tanaman dalam rumah kaca lebih sejuk.

loading...
loading...