Ini Penyebab Ribuan Hektare Lahan Tebu Terbangkalai


Pertanianku – Sebanyak 2.000 hektare lahan perkebunan tebu yang berada di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terabaikan dan tak terurus. Padahal, semestinya lahan perkebunan tersebut dapat diolah oleh petani untuk dapat meningkatkan kesejahteraan petani yang ada di Cirebon. Namun, kenyataannya, lahan ribuan hektare tersebut dibiarkan.

Foto: pixabay

“Ada sekitar 2.000 hektare lahan tebu yang musim tanamnya saat ini terbengkalai,” terang Wakil Ketua DPD Andalan Petani tebu Rakyat (APTRI) Jabar, Mae Azhar, seperti melansir Republika (4/10).

Menurut Mae, lahan tanaman tebu yang saat ini masih terbengkalai itu di antaranya tersebar di Kecamatan Sindanglaut, Astanajapura, Pangenan, dan Greged. Seharusnya, ribuan hektare lahan di daerah-daerah tersebut sudah memasuki proses dampas, yakni memotong bagian tanaman tebu/diratakan dengan tanah agar tumbuhnya bagus.

Hal ini disebabkan para petani tebu tidak mempunyai modal untuk menggarap lahan tersebut. Bahkan, tak sedikit petani yang harus berutang hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Petani harus pinjam kanan kiri untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka,” tutur Mae.

Mae menyebutkan, modal yang dibutuhkan petani tebu untuk tris I, atau modal awal untuk benih dan sebagainya sekitar Rp25 juta. Sementara, modal untuk pemeliharaan atau tris II sekitar Rp17 juta.

Lebih lanjut Mae mengatakan, modal tanam pada tahun ini seharusnya diperoleh dari hasil tanam tahun lalu. Namun, dari hasil tanam tahun lalu itu, petani belum bisa menikmatinya karena gula milik mereka hingga kini belum terjual.

Pada kesempatan terpisah, salah seorang petani tebu dari Desa Beringin, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Dulsalam, membenarkan sulitnya para petani tebu memperoleh modal saat ini.

“Saya sudah menanam tebu selama 32 tahun. Tapi baru tahun ini benar-benar terpuruk,” terang Dulsalam.

Baca Juga:  Bawang Merah RI Surplus, Kementan Segera Ekspor Besar-besaran

Dulsalam termasuk petani yang melakukan tebang (panen) pada Juni 2017. Setelah tebang, lahan tebu harus kembali digarap. Modal untuk menggarap itulah yang tak dimilikinya sehingga harus berutang.

“Saya ini sekarang abis-abisan. Sampe harus ngutang kanan kiri, ke tetangga dan saudara untuk biaya tanam, ” paparnya.

loading...
loading...