Inovasi Pengendalian Lalat Buah Skala Besar pada Tanaman Mangga

Pertanianku— Kabupaten Sumedang menjadi salah satu sentra penghasil mangga di Indonesia. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), Kabupaten Sumedang telah memiliki 341 ribu batang tanaman mangga (dikonversi dari 3.410 hektare) dengan produksi sekitar 74 ribu ton per tahun. Namun, di kawasan tersebut masih kerap mengalami kendala berupa serangan hama lalat buah yang menjadi penyebab kehilangan hasil paling besar, termasuk pada tanaman mangga gedong gincu.

hama lalat buah
foto: Pertanianku

Mangga yang terkena serangan hama lalat buah akan busuk secara perlahan dan akhirnya rontok. Peluang ekspor mangga gedong gincu terbilang besar. Namun, serangan lalat buah dan residu pestisida kimia menyebabkan produksi menjadi terhambat. Kerusakan buah akibat hama ini mencapai 30–40 persen. Akibat serangan hama ini, buah-buah mangga asal Indonesia sering mengalami penolakan negara produsen, seperti Jepang dan Australia.

Para petani sebenarnya sudah melakukan pengendalian, tetapi hasilnya masih kurang efektif karena masih dilakukan secara parsial dan tidak kontinyu. Melihat kondisi tersebut, Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Jawa Barat melakukan terobosan manajemen pengendalian lalat buah dalam skala luas secara terpadu. Pengendalian tersebut dilakukan dengan menerapkan Sistem Manajemen Pengendalian OPT Lalat Buah Skala Kawasan (Simpok).

Simpok telah diaplikasikan sejak Oktober 2018 di lahan seluas 300 hektare yang tersebar di Kabupaten Cirebon (80 hektare), Indramayu (100 hektare), dan Sumedang (120 hektare). Pada 2019 luas kawasan di Indramayu ditambah 100 hektare sehingga total luas kawasan menjadi 400 hektare.

Inovasi yang dikembangkan oleh BPTPH berfungsi mempercepat pengurangan populasi lalat buah secara berkesinambungan, menekan populasi lalat buah hingga nilai ekor per trap per hari (ETH) kurang dari 1 ekor, serta meningkatkan kualitas dan daya saing mangga gedong gincu.

Baca Juga:  Upaya Kalsel di Bidang Pertanian untuk Menghadapi Perubahan Iklim

Melansir dari laman hortikultura.pertanian.go.id, berdasarkan hasil monitoring evaluasi penerapan Simpok selama 1,5 tahun, rata-rata populasi lalat buah ETH mengalami penurunan dari 114,65 ETH  menjadi 10,33 ETH. Sementara itu, untuk ekpor nilai ETH harus kurang dari 1.

Penerapan pengelolaan lalat buah skala luas dilakukan dengan cara monitoring populasi lalat buah dari perangkap steiner, pembuatan dan pemasangan ME block, pembuatan dan penyemprotan umpan protein, serta sanitasi lingkungan.