Inovasi Pupuk Tanaman dari Darah Sapi

Pertanianku — Bila biasanya pupuk organik terbuat dari kotoran ternak, baik kotoran padat maupun cair, saat ini siswa SMK Sekolah Menengah Analis Kimia Padang, (SMK-SMAK) Sumatera Barat mulai mengolah pupuk organik cair dari darah sapi. Ide tersebut muncul ketika melihat banyak limbah darah sapi yang dihasilkan oleh rumah pemotongan hewan (RPH).

Darah sapi
foto: Ilustrasi pupuk organik cair Trubus

Limbah darah dibiarkan begitu saja mengalir ke sungai, padahal hal tersebut bisa berdampak buruk bagi masyarakat sekitar. Darah yang dialirkan ke sungai menimbulkan bau tidak sedap serta membuat air sungai menjadi keruh dan berbau.

Dalam jangka menengah, limbah darah dapat memengaruhi kesehatan masyarakat sekitar. Risiko terkena penyakit kulit hingga penyakit pernapasan akut semakin besar.

Dampak jangka panjang dari limbah ini ialah menurunkan kadar oksigen air dan membuat ekosistem di sekitar terganggu. Melansir dari laman Indonesia.go.id, setiap harinya Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat memperkirakan ada 720–960 liter darah sapi yang dihasilkan oleh RPH.

Berdasarkan hasil survei, ada 7 dari 10 RPH yang belum memiliki prosedur pengolahan limbah darah yang memadai. Akibatnya, RPH membuang limbah ke sungai.

Berangkat dari keresahan tersebut, siswa SMK-SMAK Padang dan pembimbing berkolaborasi menciptakan inovasi untuk mengolah limbah darah menjadi pupuk organik cair. Hasil inovasi mereka diberi nama Pupuk Organik Cair Darah Sapi Rumah Potong Hewan atau disingkat POC Darsa Rupawan.

Berdasarkan hasil pengujian, POC ini mampu menyuburkan tanaman padi, buah, sayur-sayuran, palawija, dan tanaman hias. Kini produk tersebut sudah terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia serta telah mendapatkan hak paten. POC Darsa Rupawan pun telah diproduksi melalui teaching factory dari Kemenperin serta didukung oleh 4 RPH. Produknya sudah mulai diperdagangkan di wilayah Sumatera Barat.

Baca Juga:  Indonesia Kembali Ekspor Daging Ayam ke Singapura

POC Darsa Rupawan tak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga bisa menjadi solusi mengatasi permasalahan harga pupuk yang mahal sehingga pemerintah dapat menghemat biaya subsidi pupuk. Pasalnya, bahan untuk membuat pupuk ini tergolong mudah diperoleh.