Inovasi Unik, Sepatu dari Kulit Ceker Ayam


Pertanianku — Semakin hari, banyak orang kreatif bermunculan, salah satunya yaitu pemuda asal Bandung, Nurman Farieka Ramdhani (23). Ia berhasil membuat sepatu dari kulit ceker ayam.

sepatu dari kulit ceker ayam
Foto: Google Image

Ia mengubah kulit ceker ayam menjadi bahan baku pembuatan sepatu yang memiliki nilai jual tinggi. Ide itu didapatkannya dari sang ayah yang merupakan seorang lulusan Politeknik Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta.

Ayah Nurman mengembangkan kulit ceker ayam sebagai bahan kulit saat penelitian di Balai Besar Kulit, Karet, dan Plastik, Yogyakarta. Namun, ayahnya tidak lagi melanjutkan produk tersebut. Oleh karena itu, Nurman memutuskan untuk meneliti kembali kulit ceker ayam sebagai bahan baku.

Eksperimennya berproses selama satu tahun. Pada awal 2017, Nurman mulai berani menampilkan sepatu dari kulit ceker ayam yang diberi merek Hirka Shoes.

“Ide ini sudah ada 15 tahun yang lalu sejak ayah meneliti,” katanya, seperti dikutip Republika, Minggu (2/12).

Menurut Nurman, pemanfaatan limbah kulit ceker ayam ini juga sebagai bagian kampanye benda tidak terpakai menjadi sesuatu yang bernilai jual tinggi. Ia mengatakan, selain kulit ceker ayam mudah ditemukan, pemanfaatannya tidak mengganggu populasi hewan. Berbeda dibandingkan dengan kulit buaya ataupun ular.

Nurman menyebutkan, sebuah sepatu memerlukan kulit dari 22 ceker ayam. Jadi, sepasang sepatu perlu dua kali lipatnya. Proses pengupasan kulit ceker dan pembuatan sepatu dilakukan secara manual sehingga penyelesaian sepasang sepatu bisa lebih dari sepekan.

“Saya tertarik membuatnya karena unik dan belum ada yang membuatnya,” ujarnya.

Menurut Nurman, keunggulan kulit ceker ayam adalah tekstur kulitnya memiliki pola alamiah sehingga setiap sepatu memiliki pola kulit yang berbeda-beda ketimbang kulit buaya dan ular. Nurman juga mewarnai hasil akhir dan sepatu tersebut dengan ragam warna.

Baca Juga:  3 Kelebihan Sistem Akuaponik Dibanding Hidroponik

“Kulit ceker ayamnya kita beri warna ada yang tan, gold, navy, merah, cokelat, hijau, dan warna orisinal,” tuturnya.

Ia mengungkapkan, untuk jenis kulit ceker ayam pun diseleksi. Nurman membutuhkan ayam dengan minimal bobot seberat dua kilogram. Hal ini supaya kulit ceker yang dihasilkan semakin besar dan lebar.

“Supaya tidak memakan waktu banyak untuk produksi. Semakin kecil kulit, nanti semakin lama lagi waktu untuk memprosesnya sebagai sepatu,” kata Nurman.

Sepatu Hirka edisi kulit ceker ayam dibanderol Rp500 ribu—Rp2 juta per pasang. Pelanggan perlu memesan terlebih dulu untuk dilakukan pengukuran sebab proses pembuatannya cukup memakan waktu. Ia pun berencana untuk melebarkan sayap usaha dengan membuat aneka jenis barang dari kulit ceker ayam.

“Kita akan membuat barang-barang yang universal dan berukuran kecil supaya lebih cepat dan mudah dibuatnya seperti dompet, dompet STNK, atau gantungan kunci,” kata dia.