Jagung Rendah Aflatoxin Siap Dikembangkan di Indonesia

Pertanianku — Perkumpulan Produsen Pemurni Jagung Indonesia (P3JI), Kementerian Pertanian, Pemerintah Daerah, dan kelompok tani akan bekerja sama untuk menghasilkan jagung rendah aflatoxin. Kerja sama tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pengusaha terhadap bahan baku lokal yang berkualitas dan memenui standar, yaitu kadar aflatokxin di bawah 20 ppb (per part billion).

jagung rendah aflatoxin
foto: Pertanianku

Kerja sama tersebut disambut baik oleh pengusaha (stakeholder) pengolahan Jagung Rendah Alfatoxin (JRA) di Indonesia. Salah satu perusahaan yang menyambut baik upaya kerja sama tersebut adalah PT Tereos FKS Indonesia. Perusahaan tersebut membutuhkan JRA untuk diolah menjadi pati jagung, fructose, dextrose, glucose, dan maltodextrin. Seluruh hasil produksi perusahaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan dalam dan luar negeri.

“Kami siap membeli jagung (JRA) dengan harga premium dan lebih baik dari harga yang dibeli pabrik pakan saat ini,” ujar R. Wiswan Djaja, Presiden Direktur PT Tereos FKS Indonesia seperti dikutip dari laman pertanian.go.id.

Berdasarkan data yang tercatat di BPS, diperkirakan kebutuhan JRA sebesar 1 juta ton/tahun dan setiap tahunnya terus bertambah. Permintaan JRA terbesar datang dari industri pangan seperti PT Tereos. Selama ini kebutuhan bahan baku perusahaan tersebut baru dipenuhi oleh petani asal Lombok Timur yang sudah memproduksi JRA dalam skala besar.

Salah satu kelompok tani yang sudah mulai mengembangkan JRA adalah Kelompok Tani Maju di Kabupaten Lampung Selatan. Ketua Poktan Tani Maju, Solihin, menyebutkan uji coba produksi jagung rendah aflatoxin akan dilakukan pada Maret mendatang. Saat ini Poktan Tani Maju sudah menanam jagung di lahan seluas 25 hektare.

Poktan Tani Maju akan mencontoh cara petani di Lombok Timur untuk menghasilkan JRA sesuai dengan arahan dari Kementan. Poktan tersebut juga akan mendapatkan pendampingan dari Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung (Distan). Pendampingan akan diberikan mulai dari proses tanam hingga proses panen.

Baca Juga:  Cara Alami Mengendalikan Hama Terung

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Suwandi mengatakan bahwa kunci dari produksi jagung JRA ini adalah proses panen dan pascapanennya. Oleh karena itu, Suwandi meminta kepada petani untuk menjalankan panen dan pascapanen sesuai dengan prosedur yang sudah dijalankan agar hasil yang didapatkan jauh lebih maksimal.

Suwandi juga menyampaikan Kementan akan memberikan bantuan berupa corn combine harvester dan mesin pengering jagung vertikal.