Jamur Tudung Pengantin, Salah Satu Kekayaan Alam yang Mulai Langka


Pertanianku — Di Indonesia, beberapa jenis jamur sudah dimanfaatkan di antaranya jamur merang, jamur kuping, dan sebagainya. Namun, salah satu jamur yang unik kini mulai langka, yakni jamur tudung pengantin.

jamur tudung pengantin
Foto: Google Image

Jamur tudung pengantin (Phallus indusiatus) atau The Bridal Veil Mushroom berbeda dengan jamur pada umumnya. Jamur ini memiliki jaring-jaring halus sehingga bentuknya menyerupai tudung pengantin mempelai wanita yang sedang duduk termenung di pelaminan. Sejauh ini, jaring-jaring halus yang ditemukan memiliki variasi warna, yaitu warna putih dan oranye.

Tudung pengantin adalah bagian dari tubuh jamur yang tumbuh pada saat jamur sudah berusia matang. Jaring ini tumbuh dari bagian atas kepala jamur dan akan terus bertambah panjang. Panjang tudung atau jaringnya dapat mencapai 12 cm, sedangkan jamurnya sendiri tingginya mencapai 20 cm. Waktu hidup jamur yang mulai langka ini cukup singkat, yaitu hanya sampai 30 hari.

Pada bagian kepala mirip kerucut terdapat lendir berwarna cokelat kehijauan yang merupakan sumber pakan bagi lalat. Lendir tersebut memiliki bau yang sangat disukai oleh lalat sehingga lalat sering hinggap di kepala jamur untuk memakan lendir tersebut serta membantu perkembangbiakan pada jamur.

Setelah itu, lalat tersebut akan terbang dengan membawa spora jamur tudung pengantin. Jika lalat tersebut membuang kotoran di suatu tempat, spora dalam kotoran lalat ikut tersebar dan menjadi jamur tudung pengantin yang baru.

Jamur tudung pengantin dapat hidup pada suhu berkisar 25—30° C. Jenis jamur ini juga dapat tumbuh di tempat yang lembap seperti di semak-semak pohon bambu.

Jamur tudung pengantin tersebar di seluruh pelosok benua. Di daerah padat seperti Kota Jakarta, jamur cantik ini pun sudah mulai langka dijumpai. Di Jakarta, jamur tudung pengantin dapat dijumpai di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan.

Baca Juga:  Manfaat Budidaya Jamur Bagi Masyarakat

Di beberapa negara, jamur tudung pengantin sudah dimanfaatkan sebagai obat-obatan. Namun sayang, di Indonesia belum ada perhatian khusus dan upaya serius untuk mempelajari jamur sebagai obat-obatan.