Kabupaten Karo Sumut Surplus Wortel


Pertanianku — Kabupaten Karo, Sumatera Utara, merupakan salah satu sentra penghasil tanaman wortel kualitas terbaik di Indonesia. Alhasil, wortel yang diproduksi petani Kabupaten Karo merupakan salah satu produk berkualitas dan sehat. Dalam kunjungannya, Direktur Jenderal Hortikultura Kementan, Suwandi mengatakan, di daerah ini surplus wortel.

surplus wortel
Foto: Pixabay

Kementerian Pertanian (Kementan) memang terus berupaya meningkatkan kualitas, perluasan pasar, dan pendapatan petani dengan penggunaan benih unggul dan sarana pertanian modern. Selain itu, juga bertujuan meningkatkan ekspor sekaligus mengurangi bahkan menghentikan impor.

“Pelaku usaha bersama petani Berastagi saat ini tengah menanam benih wortel berproduksi tinggi. Kami hari ini melihat hasil uji coba benih wortel unggul produksinya 40 sampai 60 ton per hektare,” kata Suwandi, Kamis (17/1).

Suwandi menjelaskan produktivitas benih unggul tersebut memang sangat tinggi dan kualitasnya pun bagus. Sebab, jika dibandingkan dengan wortel varietas Gundaling dan varietas lokal lainnya, produksinya hanya 30 sampai 40 ton per hektare.

“Potensi pasar wortel sangat besar, baik dalam dan luar negeri. Dulu kita impor wortel sekitar 43 ribu ton per tahun, dari Cina 40 ton per minggu, juga dari Australia dan dari negara lainya,” ujarnya.

Kendati demikian, Suwandi menegaskan dahulu neraca perdagangan wortel defisit, tapi pada 2018 justru dibalikkan menjadi surplus. Berdasarkan data BPS, Januari—November 2018 ekspor wortel sebesar 17 ton, sedangkan impor hanya 3 ton. Dengan demikian, terjadi surplus perdagangan wortel.

“Dan patut kita banggakan, bahwa ekspor Januari—November 2018 naik 630 persen dibandingkan dari Januari—November 2017,” tegasnya.

Oleh karena itu, Suwandi optimis seiring dengan program peningkatan produksi dan mutu, diharapkan ekspor ke depan akan melonjak. Apalagi dengan pengembangan wortel benih jenis unggul kualitas ekspor sehingga bisa diekspor ke Cina, Asia, dan Timur Tengah.

Baca Juga:  Pemerintah Dukung Upaya Pengembangan Sawit Jadi Bensin dan Elpiji

“Selama ini petani hanya menanam wortel varietas lokal. Jadi, apabila pertanaman diperluas akan meningkatkan ekspor dan pendapatan petani,” ujarnya.

Adapun biaya wortel Break Event Point (BEP) Rp1.000 sampai Rp1.200 per kilogram. Sementara, harga jual di petani Rp3.000 per kilogram dan produktivitas bersih mencapai 10 ton per hektare. “Kalau gross sekitar 25—30 ton per hektare dan sisanya reject dijual lokal,” tukas Suwandi.

Mandala, petani Berastagi mengatakan dengan lahan 15 ha yang ditanami wortel, pendapatannya Rp50 juta per bulan. “Menanam wortel sangat menjanjikan, ya pendapatan sekitar Rp50 juta per bulan,” katanya.

Sementara itu, Armis pemilik PT Pandiafarm di Berastagi mengatakan pasokan wortel sangat lancar. Karenanya perusahaan sudah rutin memasok 100 ton per hari keluar daerah yakni Jawa hingga Papua.

“Setiap hari sebanyak 100 ton rutin kami pasok ke Jakarta, Surabaya, Bali sampai Manokwari, Papua Barat,” ujarnya.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Karo, luas panen wortel seluas 1.024 hektare. Daerah penghasil wortel di Kabupaten Karo meliputi Kecamatan Simpang Empat, Naman Teran, Berastagi, Merdeka, Kabanjahe, Tiga Panah, Dolat Rayat, Merek, dan Barus Jahe.