Kafein pada Kopi Bantu Penderita Parkinson, Benarkah?


Pertanianku – Penggunaan kafein dalam kopi pada dunia medis memang bukan hal yang tabu lagi. Bahkan, pada 2012 lalu, penderita parkinson seolah mendapat kabar gembira karena sebuah temuan yang dipublikasikan oleh jurnal Neurology. Kira-kira apa temuan tersebut ya?

Foto: pixabay

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kafein dapat meringankan keluhan tremor dan masalah-masalah gerakan lain pada pasien parkinson. Tahukah Anda bahwa temuan tersebut berdasarkan hasil studi yang cukup singkat, yakni selama enam minggu.

Temuan tersebut mendorong para penderita parkinson untuk giat mengonsumsi kopi secara rutin.

“Kita harus selalu memverifikasi apa pun,” ungkap associate professor di bidang neurologi dari McGill University Health Center Dr. Ronald Postuma, seperti dilansir Medline Plus.

Berdasarkan hasil uji klinis menunjukkan bahwa mengonsumsi kafein tak hanya memberikan dampak tremor ataupun masalah-masalah gerakan lain yang kerap dialami penderita parkinson. Bisa dikatakan bahwa mengonsumsi kafein dapat meringankan gangguan motorik pasien parkinson tidak terbukti.

“Ini menutup peluang kopi untuk menjadi terapi bagi gangguan motorik parkinson,” ucap Postuma.

Uji klinis tersebut bahkan diikuti oleh sekitar 121 pasien yang rata-rata sudah menderita parkinson selama empat tahun. Setengah dari pasien tersebut diminta untuk mengonsumsi kapsul kafein 200 gram sebanyak dua kali per hari. Jumlah kafein ini setara dengan meminum tiga gelas kopi per hari.

Setengah pasien lainnya diminta untuk mengonsumsi kapsul placebo yang memang tidak memiliki efek terhadap gangguan motorik pada pasien parkinson.

Dalam percobaan jangka panjang ini, Postuma dan tim tidak menemukan fakta bahwa kafein mampu membantu pasien parkinson. Tak ada perbedaan berarti yang ditunjukkan oleh pasien yang mengonsumsi kapsul kafein maupun kapsul placebo.

“(Hasil) kedua grup terlihat benar-benar sama,” lanjutnya.

Baca Juga:  Ajaib! Dua Buah Ini Ampuh Halau Penyakit Jantung

Meski demikian, masih ditemukan adanya perbedaan kontras antara percobaan jangka pendek dan jangka panjang ini menunjukkan adanya potensi berbahaya untuk menerapkan sesuatu berdasarkan terapi jangka pendek.

Sebelum bisa benar-benar diterapkan, hasil penelitian jangka pendek atau berskala kecil harus dikonfirmasi melalui replikasi dan verifikasi. Studi konfirmasi ini memang dirancang untuk menguji hipotesis yang ditunjukkan penelitian jangka pendek.

loading...
loading...