Kampanye Negatif Sawit Indonesia Harus Segera Diakhiri


Pertanianku – Belum lama ini beredar kampanye negatif yang ditujukan pada industri kelapa sawit asal Indonesia di mancanegara. Hal inilah yang membuat Menteri Perdagangan (Mendag) ingin mengakhiri kampanye negatif tersebut agar tak semakin merebak luas.

Foto: pixabay

Menurut Mendag sebagai produsen utama crude palm oil (CPO) di dunia, Indonesia harus terus melawan kampanye negatif agar pasar ekspor CPO dan produk turunannya tidak hilang.

“Pemerintah menjamin dan kita meminta kepada negara Eropa, Amerika dan beberapa negara lain untuk tidak menyampaikan atau mengampanyekan hal negatif. Jadi ekspor kami jaga, kami juga meminta industrinya untuk downstream-nya segera dikembangkan,” jelas Mendag belum lama ini, seperti melansir Kompas (3/10).

Menurut Mendag, hal tersebut dilakukan agar sawit Indonesia bisa mendapatkan penilaian positif dan dapat bersaing dengan produk sejenis di kawasan Eropa.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan (Kemendag) Iman Pambagyo turut angkat suara dan mengatakan, salah satu upaya melawan kampanye negatif tersebut adalah dengan terus memperbaiki kredibiltas sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO).

“Kami sedang memperbaiki ISPO supaya lebih kuat lagi dan kredibel,” ungkapnya.

Baginya kampanye negatif yang ditujukan kepada CPO asal Indonesia bukan tanpa alasan, tetapi karena untuk menurunkan pangsa pasar CPO dan produk turunannya di pasar Eropa.

“Kami ingin ada keadilan, masalahnya apa sih sebetulnya, jika resolusi Uni Eropa tidak memiliki justifikasi yang jelas, ini persaingan akhirnya,” lanjut Iman.

Seperti yang diketahui, Parlemen Uni Eropa mengeluarkan resolusi soal sawit dan pelarangan biodiesel berbasis sawit pada April 2017 lalu.

Kebijakan tersebut dikeluarkan karena industri sawit dinilai masih menciptakan banyak masalah dari deforestasi, korupsi, pekerja anak, hingga pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Baca Juga:  Ternyata Ini Pentingnya Sertifikat Bagi Para Petambak
loading...
loading...