Kampung Rajungan di Paciran, Penghasil Rajungan Ekspor

Pertanianku— Desa Paciran yang terletak di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur terkenal sebagai Kampung Rajungan. Pasalnya, masyarakat di desa tersebut sebagian besar bekerja sebagai nelayan rajungan. Tercatat ada 1.142 nelayan yang tergabung ke dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB).

kampung rajungan
foto: Trubus

Setiap tahunnya Kampung Rajungan dapat menghasilkan rajungan sebanyak 389.250 kg dengan taksiran nilai produksi lebih dari Rp46 miliar. Bahkan, rajungan asal Paciran sudah berhasil menembus pasar ekspor seperti Amerika Serikat, Prancis, Jepang, dan Korea Selatan.

Tak hanya menjadi daerah penghasil rajungan, di Desa Paciran sudah dikembangkan kegiatan hilirisasi usaha rajungan Setidaknya, ada sembilan Unit Pengolahan Ikan (UPI) berskala mikro yang tergabung di dalam Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklahsar) Gampang Rukun dan Poklahsar Persaudaraan Ibu Nelayan (PIN). Sebagian besar tenaga kerjanya merupakan istri nelayan.

Penyuluh perikanan, Toha Muslih, mendampingi Poklahsar tersebut untuk mendapatkan legalitas perizinan usaha seperti Nomor Induk Berusaha, Pangan Industri Rumah Tangga, dan Halal Majelis Ulama Indonesia.

Toha pertama kali ditugaskan sebagai penyuluh di Desa Paciran pada 2011 silam. Kala itu kehidupan nelayan masih tergolong pas-pasan dengan hasil tangkapan yang minim.

“Saya melihat potensi rajungan yang besar, sayangnya masyarakat masih hidup secara individu. Mereka akan besar jika memiliki kelembagaan sendiri. Untuk itu, saya berinisiatif membentuk kelompok sebagai wadah usaha nelayan,” tutur Toha seperti dilansir dari laman kkp.go.id.

Pendekatan kelompok melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) ternyata merupakan strategi yang efektif. Masyarakat pesisir dapat merasakan manfaatnya saat menjadi anggota karena kelompok tersebut dapat meningkatkan kemampuan usaha, akses permodalan, pemasaran, dan mengakses program pemerintah atau Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan.

Baca Juga:  Keunggulan Ikan Kerapu Cantang, Persilangan Kerapu Macan dan Kerapu Kertang

Toha selalu mengajak nelayan untuk menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan, khususnya bubu lipat. Selain itu, ia juga gencar mensosialisasikan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting, dan Rajungan di wilayah Republik Indonesia. Peraturan tersebut berguna menjaga keberlanjutan rajungan di alam.

Toha juga mengajarkan teknik penangkapan dan penanganan rajungan yang baik agar hasil tangkapannya bisa dijual dengan harga yang bagus.

“Dulu sekilo rajungan cuma dihargai Rp40.000 hingga Rp60.000, sekarang dengan kualitas yang lebih baik harganya naik jadi Rp120.000 sampai Rp130.000 per kg,” terang Tsabit, Ketua KUB Kelopo Kembar, binaan Toha.

Saat ini nelayan di Kampung Rajungan sudah memanfaatkan GPS, aplikasi perkiraan cuaca, dan mesin penarik jaring.