Kandungan Gizi Padi Berkurang karena Emisi Gas Rumah Kaca


Pertanianku Kandungan gizi padi berkurang karena emisi gas rumah kaca. Hal tersebut dibuktikan oleh sebuah studi terbaru. Para peneliti menemukan fakta bahwa padi yang ditanam di wilayah dengan konsentrasi karbon dioksida tinggi, kadar vitaminnya lebih rendah.

Kandungan gizi padi berkurang
Foto: Pixabay

“Jika kita tidak melakukan apa pun, maka itu akan memberikan dampak negatif pada kesehatan manusia,” kata Kristie Ebi, peneliti kesehatan masyarakat dari University of Washington, yang melakukan studi tersebut, mengutip National Geographic Indonesia.

Penelitian yang dilakukan di Jepang dan Tiongkok ini menguji 18 varian padi yang ditanam di luar ruangan dengan konsentrasi karbon dioksida tinggi. Hasilnya menunjukkan padi kehilangan kandungan vitamin B1, B2, B5, B9, dan 30% folat. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan adanya penurunan protein, zat besi, dan seng.

“Salah satu kandungan gizi yang berkurang adalah folat. Kita tahu bahwa kekurangan folat pada wanita hamil bisa menyebabkan bayi lahir cacat. Namun, tidak hanya untuk ibu hamil, folat juga penting untuk kesehatan kita,” papar Ebi.

Tanaman menarik karbon dari udara untuk tumbuh dan mereka akan menarik lebih banyak saat konsentrasinya meningkat. Masalahnya adalah aspek metabolisme padi tidak mampu menandingi jumlah karbon. Akibatnya, mereka menarik lebih sedkit nutrisi dari dalam tanah saat tumbuh.

“CO2 sebenarnya merupakan penyubur. Ia bisa membuat tanaman tumbuh lebih banyak,” ujar Lewiz Ziska, peneliti lain dari Departemen Pertanian. “Namun, hasil panen yang banyak bukan jaminan Anda mendapatkan kualitas yang baik,” tambahnya.

Ini tidak hanya terjadi pada padi. Chuck Rice, profesor Agronomi di Kansas State University, mengatakan, mekanisme tersebut dapat memengaruhi tanaman lain dan makanan pokok lainnya.

“Sebuah ekperimen lain juga menunjukkan bahwa protein pada gandum berkurang 2—10% di lingkungan dengan paparan CO2 yang tinggi,” jelasnya.

Baca Juga:  Umur yang Pas untuk Panen Cabai

Rice menambahkan, hal ini dapat mengacaukan rencana para pemimpin untuk meningkatkan nutrisi global. Penemuan ini sesuai dengan tema lain yang mengangkat dampak perubahan iklim, yakni orang-orang miskin dan kurang beruntung, secara global paling terpukul dengan perubahan ini. Mereka tidak mampu beralih ke makanan lain yang lebih bergizi.

“Ketika berbicara tentang siapa yang paling banyak mengonsumsi makanan pokok, itu adalah mereka yang miskin, di semua negara,” tutur Ebi.

loading...
loading...