Kandungan Nutrisi Artemia, Pakan Alami yang Sangat Diandalkan

Pertanianku — Hingga saat ini artemia menjadi salah satu pakan alami yang disukai oleh pembudidaya ikan dan udang karena terbukti dapat mendukung pertumbuhan larva lebih maksimal. Artemia sering digunakan sebagai pakan larva dalam usaha budidaya udang. Kandungan nutrisi artemia terbilang cukup tinggi. Kandungan proteinnya mencapai 60 persen dengan kandungan asam amino esensial yang lengkap dan jumlah tinggi.

Nutrisi artemia
foto: pertanianku

Artemia yang masih berumur 1 hari sudah memiliki kandungan asam amino pitolin, isoleusin, lisin, dan asam glutamate yang tinggi. Sementara itu, pada artemia dewasa yang sudah berumur 30 hari mengandung asam amino prolin, isoleusin, dan asam glutamat yang tinggi.

Komposisi kandungan nutrisi artemia di antaranya protein 40—60 persen, karbohidrat 15—20 persen, lemak 15—20 persen, abu 3—4 persen, dan air 1—10 persen.

Lemak artemia banyak mengandung asam lemak esensial omega-3 dan omega-6 yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan. Kandungan omega-3 sudah terdapat pada artemia yang berumur satu hari dan artemia dewasa. Sebenarnya, kandungan nutrisi artemia juga baik untuk manusia.

Pakan alami ini memiliki cangkang atau kerangka luar (eksoskeleton) yang sangat tipis sehingga seluruh bagian artemia mudah dicerna.
Kandungan asam lemak yang terdapat di dalam pakan alami ini sangat dibutuhkan oleh larva udang atau ikan pada stadium awal untuk membentuk membran dan untuk pertumbuhan selanjutnya.

Pemberian artemia yang masih berumur 1 hari sebanyak 3 persen sudah dapat memenuhi kebutuhan asam lemak bagi pertumbuhan larva.
Sementara itu, untuk mendukung pretumbuhan ikan nila membutuhkan 0,5 persen asam linoleate. Asam lemak tersebut dapat disintesis di dalam tubuh artemia.

Kandungan asam lemak omega-3 di dalam artemia dapat diperkaya dengan merendam artemia di dalam larutan campuran emulsi minyak, kuning telur, dan air laut sebesar 250 ppm.
Artemia dapat ditemukan di berbagai perairan bersalinitas di daerah tropis dan subtropis dengan tingkat salinitas sebesar 42—250 ppt. Namun, tidak semua perairan bersalinitas tinggi terdapat artemia karena artemia tidak dapat bermigrasi. Kemampuan artemia hidup pada air bersalinitas tinggi dapat melindunginya dari predator dan menghindari kompetisi dengan biota sejenis.

Baca Juga:  Cara Menyimpan Kroto yang Benar agar Bertahan Lama