Keajaiban Beras Merah untuk Mengurangi Risiko Kanker

Pertanianku Beras merah sudah terkenal sebagai bahan pangan yang sering dikonsumsi oleh pegiat pola hidup sehat. Beras ini sudah terkenal sejak 2800 SM dan digunakan sebagai obat oleh para tabib di kala itu. Warna merah pada beras berasal dari kulit ari yang mengandung gen. Gen tersebut memproduksi antioksidan.

beras merah
foto: pixabay

Berbeda dengan beras putih, beras merah biasanya merupakan beras tumbuk atau pecah kulit sehingga yang dipisahkan hanya bagian sekamnya.

Menurut Rui Hai Liu, M.D., Ph.D., dari Cornell University, Amerika Serikat, menyatakan, dalam beras merah tersimpan beragam zat antikanker, di antaranya serat, selenium, dan senyawa fitokimia seperti fenolat dan lignan.

Segelas nasi beras merah tumbuk mengandung 216,45 kalori; 88 persen kecukupan harian (daily value/DV) mineral mangan; 27 persen DV selenium; 21 persen DV magnesium; 18,8 persen DV asam amino triptofan; 3,5 gram serat (beras putih mengandung kurang dari 1 gram), dan proteinnya 2–5 persen lebih tinggi daripada beras putih.

Selain itu, beras merah mengandung asam lemak alfa-linolenat, zat besi, vitamin B kompleks, dan vitamin A. Mangan membantu produksi energi dari protein dan karbohidrat, serta membantu pembuatan asam lemak yang penting bagi sistem saraf.

Kandungan magnesium yang ada di dalam beras merah dapat menguatkan tulang dan menjadi bagian dari 300 enzim di dalam tubuh, termasuk enzim yang mengatur penggunaan insulin. Enzim tersebut berperan dalam penyakit diabetes.

Serat yang terkandung di dalam beras ini terbilang tinggi sehingga mampu mempercepat masa tinggal sisa makanan di usus. Dengan begitu, risiko kanker dapat lebih rendah.

Mengonsumsi 6 porsi beras merah per minggu sangat baik untuk wanita pascamenopause yang punya problem kolesterol, tekanan darah tinggi, dan gejala penyakit jantung.

Baca Juga:  Manfaat Talas Jepang Satoimo

Sejak dahulu, beras merah terkenal sebagai beras sehat sama seperti beras hitam dan beras putih organik. Istilah beras sehat di sini tentu mengacu pada jenis beras yang dihasilkan dari budidaya padi secara organik (SRI/System of Rice Intensification), tanpa penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia.

Selain itu, beras dengan label sehat harus mengandung paling sedikit 8 persen protein dan 1,5 persen lemak nabati. Beras biasa yang sering dikonsumsi hanya mengandung 7 persen protein dan 1,5 persen lemak nabati.