Kebutuhan Sengon dan Jabon di Tanahair


Pertanianku – Pasar lokal merupakan penyerap terbesar produksi jabon dan sengon. Hal itu terlihat antara lain dari pergerakan harga kayu-kayu tersebut. Sampai tahun 2000, harga kayu sengon dengan tinggi 15—17 m berdiameter 30—40 cm berkisar rp125.000—rp150.000 per kubik, tergantung dari lokasi penananam. Berselang 10 tahun kemudian pada 2010, kayu dengan ukuran serupa sudah mencapai harga rp450.000—rp700.000 per kubik. Bahkan, pada 2008 karena kelangkaan pasokan, pengumpul di Jawa Tengah berani membayar hingga rp900.000 per kubik.

Kebutuhan Sengon dan Jabon di Tanahair

Industri pengolahan seperti kertas, mebel, moulding, dan lainnya merupakan pasar utama. Berdasarkan data dari Kementerian Kehutanan pada 2010, jumlah industri kayu yang memiliki kapasitas produksi lebih dari 6.000 kubik per tahun mencapai 304 industri dengan kebutuhan mencapai angka 29,6 juta kubik. Dari volume kebutuhan itu, tidak sampai separuhnya terpenuhi. Industri kayu di Jawa Barat, misalnya, hanya bisa terpasok sekitar 15% dari total kebutuhan 653.460 kubik.

Menariknya lagi industri-industri itu juga menyerap tenaga kerja cukup besar. Hasil analisis EC-Indonesia Forest Law Enforcement, Governance and Trade Support Project pada 2008 menyebutkan setiap industri penggergajian yang mengeluarkan produksi sebanyak 1.000 kubik membutuhkan pekerja hingga 100 orang. Pada industri kayu lapis dengan produksi serupa mampu menyerap 300 pekerja.

Pasar jabon dan sengon yang terbuka lebar itu juga mendorong munculnya tawaran-tawaran investasi di berbagai media. Selain iming-iming mudahnya budi daya, waktu panen relatif singkat, dan jaminan pasar dengan harga jual terus meningkat setiap tahun menjadi promosi jitu yang ditawarkan.

 

Sumber: Buku Sengon dan Jabon Kayu Super Cepat

 

Baca Juga:  Ekspor Perkebunan Meningkat Pesat Hingga 26,5 Persen