Kembali Melonjak, Bisnis Budidaya Garam Berpotensi Lagi


Pertanianku – Para petani garam di daerah Karawang, Jawa Barat, kini tengah bersiap kembali memproduksi garam setelah sebelumnya sempat berhenti karena harga garam yang anjlok.

Kondisi ini, membuat para petani garam tergiur dengan harga garam saat ini yang mencapai Rp2.500 per kilogram (kg). Mahalnya harga garam ini, akibat pasokan garam dari petani nihil.

Salah satu petani garam asal Desa Ciparage Jaya, Kecamatan Tempuran, Sudarna mengaku, saat ini banyak pembudidaya yang tergiur untuk tanam garam. Sebab, harga garam kini melambung sampai 1.000% dari harga normal.

Terlebih lagi, cuaca tahun ini sepertinya berpihak ke pembudidaya. “Cuacanya bagus, panasnya merata. Makanya, awal Mei sepertinya pembudidaya mulai tanam garam,” ujarnya, seperti melansir Republika (21/4).

Menurut Sudarna, sepanjang 2016 lalu, tak ada satu pun pembudidaya yang produksi garam. Karena apa? Sebab, cuaca tak mendukung. Curah hujan selama tahun kemarin sangat tinggi. Oleh karena itu, pembudidaya tak ada yang tanam garam.

“Tapi tahun ini sepertinya cuaca mendukung,” ungkapnya.

Menjelang tanam garam, lebih lanjut Sudarna saat ini sedang menyiapkan segala sesuatunya. Misalnya, lahan yang telah dibajak dan dibersihkan. Termasuk, menyiapkan biaya produksi.

Biaya produksi budidaya garam ini, lanjutnya, tak sedikit, yaitu antara Rp5 juta sampai Rp10 juta per hektare. Yang terbesar, yaitu biaya untuk mengongkosi para pekerjanya. Sebab, menjelang panen garam yang hampir jadi ini harus ditunggui 24 jam penuh.

“Semakin banyak pekerja, hasilnya makin maksimal. Tapi, ongkosnya makin tinggi,” tambahnya lagi.

Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Kelompok Usaha Garam Rakyat (FK Kugar) Kabupaten Karawang, Aep Suhardi, mengakui, pada tahun ini sebanyak 230 hektare lahan garam siap produksi. Lahan tersebut, tersebar di sejumlah kecamatan sentra garam seperti Tempuran dan Cilamaya Wetan.

Baca Juga:  Polemik Impor Beras yang Tak Berujung

“Tahun ini, kami sudah dapat bantuan sejumlah alat penunjang produksi. Karenanya, target produksi naik dari 60 ton jadi 100 ton per hektare,” tuturnya.