Kementan Dorong Sorgum Jadi Pangan Alternatif

Pertanianku — Sorgum memang telah lama dikenal sebagai bahan pangan alternatif. Namun, pemanfaatannya belum banyak dilakukan. Belum lama ini Kementan (Kementerian Pertanian) meluncurkan program bantuan benih sorgum.

benih sorgum
Foto: pixabay

“Sorgum salah satu tanaman yang akan kita alokasikan bantuan benih karena tanaman ini banyak manfaatnya,” tutur Bambang Sugiharto, Direktur Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian di Jakarta (21/9) lalu.

Sorgum (Sorghum bicolor (L.) Moench pada 1970 sudah mulai banyak dibudidayakan di Indonesia. Tercatat ada sekitar 15 ribu hektare lahan sorgum yang tersebar di Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga saat ini.


Loading...

Hampir seluruh bagian tanaman sorgum, seperti biji, tangkai biji, daun, batang dan akar, dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri. Mulai menjadi makanan seperti sirup, gula, kerajinan tangan, pati, biomas, bioetanol dan tepung pengganti terigu dan lainnya.

Kepala Seksi Intensifikasi Jagung dan Serealia Lain, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Ahmad Yusuf mengatakan daerah penghasil sorgum dengan pola pengusahaan tradisional terdapat di daerah Purwodadi, Pati, Demak, Wonogiri, Gunung Kidul, Kulon Progo, Lamongan, Bojonegoro, Tuban, dan Probolinggo

“Tahun 2020 sudah kita alokasikan 5.000 hektare. Ini bukti keseriusan kami mengembangkan sorgum,” kata dia.

Menurut Yusuf, yang menarik dari sorgum adalah tidak adanya kandungan gluten seperti tepung terigu. Dengan demikian, komoditas pangan ini tentu banyak yang mencari karena sekarang masyarakat sudah banyak yang beralih ke gaya hidup sehat dengan diet gluten seperti di Eropa dan Jepang.

“Sorgum yang kaya kandungan niasin, thiamin, vitamin B6, juga zat besi, dan mangan ini patut untuk terus dikembangkan sebagai pangan alternatif yang menyehatkan,” terangnya.

Baca Juga:  Logtan: Digitalisasi Pertanian untuk Maksimalkan Produktivitas Hasil Panen

Harga sorgum segar berkisar Rp2.500—Rp3.000 per kilogramnya. Namun, harga jual akan meningkat jika sorgum sudah melalui proses pengolahan. Ini seperti yang dilakukan oleh Rumah Sorgum yang berada di Kecamatan Babat Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Industri sorgum rumahan ini berdiri pada 2016 dan sudah mendapat izin resmi dari pemerintah Kabupaten Lamongan pada 2019.

“Di rumah sorgum, banyak produk olahan yang kami hasilkan. Ada kue sorgum, sirup, beras sorgum, kemplang, madumongso, mie sorgum, banyak olahan lain lagi,” ujar Esti Faizah, salah satu penyuluh di Rumah Sorgum Indonesia.

Dalam usahanya Rumah Sorgum pun menggandeng UMKM yang mayoritas anggotanya adalah kaum ibu petani/kelompok tani wanita yang ada di wilayah Lamongan.

“Lumayan, bisa buat tambahan bantuin pendapatan keluarga mereka selain bercocok tanam,” kata Esti.

Loading...
Loading...