Kementan Gelar Pangan Murah di 100 Titik


Pertanianku — Jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Puasa dan Idul Fitri 1439 H, Kementerian Pertanian (Kementan) Gelar Pangan Murah (GPM). Hal ini untuk memudahkan masyarakat membeli pangan murah berkualitas.

Gelar Pangan Murah
Foto: Google Image

“Kami melakukan Gelar Pangan Murah (GPM) di 100 titik,” ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Agung Hendriadi, seperti dikutip dari Republika, Rabu (16/5/2018).

Lokasi GPM di 100 titik tersebut tersebar di lima wilayah, yakni DKI Jakarta, Depok, Bogor, dan Bekasi. Toko Tani Indonesia (TTI) juga terus dikerahkan untuk memudahkan konsumen mendapatkan pangan dengan harga terjangkau. Tak hanya itu, BKP juga telah melakukan beberapa langkah strategis untuk mengendalikan harga pangan, yakni membangun jejaring dengan pelaku distribusi dari wilayah sentra dan DKI Jakarta.

Masalah distribusi menjadi hal penting untuk menjaga stabilitas harga pangan selain ketersediaan pasokan. Terkait hal ini, Agung mengakui bahwa pasokan pangan strategis secara umum menunjukkan kondisi aman.

Berdasarkan prognosa, ketersediaan beras pada Mei hingga Juni 2018 mencapai 8,15 juta ton. Stok beras di Perum Bulog bahkan telah mencapai 1,28 juta ton, sedangkan stok di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) per Selasa (15/5) sebesar 40.302 ton. “Jadi untuk apa lagi impor? Enggak perlu,” katanya.

Selain beras, pangan strategis lainnya juga berada dalam kategori aman berdasarkan prognosa ketersediaan pada Mei hingga Juni tahun ini. Jagung diperkirakan ada sebanyak 4,5 juta ton, 212 ribu ton kedelai, 252 ribu ton bawang merah, 224 ribu ton cabai besar. Selain itu, terdapat juga 178 ribu ton cabai rawit, 75,4 ribu ton daging sapi, 626 ribu ton daging ayam ras, 204 ribu ton telur ayam, 4,6 juta ton minyak goreng dan 529 ribu ton gula pasir.

Baca Juga:  Harga Hewan Kurban di Sukabumi Naik Menjelang Idul Adha

Lebih lanjut Agung mengungkapkan, khusus kedelai dan daging sapi, dari produksi yang dihasilkan dalam negeri memang mengalami kekurangan untuk mencukupi kebutuhan pada periode tersebut. Tercatat kedelai mengalami defisit sebanyak 297 ribu ton dan daging sapi mengalami defisit sebanyak 41 ribu ton sehingga perlu pemenuhan dari impor.

Pemenuhan daging ini diperlukan bantuan dari impor, baik daging beku maupun sapi bakalan yang siap dipotong pada Mei—Juni.

“Impor daging sapi/kerbau untuk memenuhi Juni sekitar 48.206 ton sehingga terdapat surplus sekitar tujuh ribu ton,” tandasnya.

loading...
loading...