Kementan Inisiasi Koperasi Hortikultura


Pertanianku — Komoditas hortikultura Indonesia sedang naik daun. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) ekspor komoditas hortikultura naik 11,92 persen, dengan volume ekspor Januari—Oktober 2018 sebesar 372.073 ton atau setara dengan nilai 366 juta dolar AS.

hortikultura
Foto: Pixabay

Naiknya nilai ekspor komoditas hortikultura menjadi bukti bahwa komoditas ini menarik bagi kalangan pebisnis dan petani. Oleh karena itu, Kementan menginisiasi koperasi untuk para anggota Kontak Bisnis Hortikultura Indonesia (KBHI).

“Banyak informasi adanya pasokan dari petani yang belum diketahui pasar dan sebaliknya. Kehadiran KBHI ini menjembatani itu semua. Bahkan telah dibentuknya koperasi. Koperasi ini akan membentuk celah-celah di luar bisnis regular para petani tersebut,” kata Dirjen Hortikultura Suwandi saat meresmikan koperasi KBHI di Yogyakarta, Jumat (25/1) seperti dikutip dari Republika.

Suwandi yakin dengan terbentuknya KBHI dan koperasi hortikultura mampu memperkuat soliditas para petani dan eksportir. Selain itu, secara langsung ataupun tidak langsung ikut mendukung cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

“Untuk lumbung pangan dunia 2045 Insya Allah lebih cepat. Kita akan kuatkan seluruh stakeholder untuk bersatu. Kita akan pasok dunia untuk pangan. Ini membuktikan pangan lokal kita memiliki daya saing unggul,” kata Suwandi.

Koperasi ini nantinya akan berbentuk daring (online) tidak hanya fisik, dengan nama indohorti.com. Koperasi akan menangani mulai dari aspek hilir, pascapanen, hingga pengolahan. Suwandi berharap koperasi hortikultura ini akan go international, minimal mampu merambah Asia Tenggara.

“Ke depan akan kita kembangkan ke komoditas-komitas komersial yang memiliki standar ke luar karena pangan lokal kita bagus dan berdampak pada stamina tubuh,” ujarnya.

Sementara, Sasongko Kadistan dan Ketahanan Pangan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) mengharapkan koperasi menjadi jembatan antara kepentingan petani dan konsumen. Dengan begitu, harga di tingkat petani dan konsumen tidak berbeda jauh.

Baca Juga:  Cara Budidaya Jagung Tanpa Olah Tanah

“Selama ini di petani terlalu rendah dan di konsumen tinggi. Saya juga berharap adanya nilai tambah dan daya saing hingga bersaing dengan negara tetangga,” tuturnya.

Sasongko meyakini adanya koperasi ini akan menarik perhatian dan membuat para petani ikut serta di dalamnya. Apalagi, dengan manfaat koperasi ini yang cukup besar sebagai peningkatan kesejahteraan petani.