Kementan Targetkan RI Tak Impor Beras Hingga 2019


Pertanianku – Kementerian Pertanian (Kementan) tengah menargetkan tidak ada impor beras hingga 2019. Salah satu upaya yang dilakukan Kementan adalah penyerapan gabah dari petani. Melalui penyerapan gabah secara maksimal, stok beras akan melimpah sehingga pemerintah tidak perlu melakukan impor.

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengatakan, tim Serap Gabah Petani (Sergap) yang dibentuk pada Januari 2017 telah memperlihatkan kinerjanya. Sergap dinilai menjadi solusi efektif memotong rantai pasok tata niaga, menjamin produk petani dibeli, melindungi harga gabah petani, dan memperkuat stok cadangan beras pemerintah. Keberadaan tim ini dinilainya berhasil membuat serapan gabah lebih banyak dengan menjaga agar nilai jual gabah dari petani tidak anjlok.

“Kita awalnya hanya mampu 2.000 ton per hari. Sekarang kita mampu menyerap gabah hingga 20 ribu ton per hari. Tapi ini kita targetnya naik hingga 30 ribu ton per hari,” kata Mentan, belum lama ini seperti dilansir Republika (27/3).

Amran menjelaskan, sebelum adanya Sergab, serapan gabah per hari berada di kisaran 2.000 ton per hari. Dengan percepatan ini, Kementan meningkatkan serapannya mencapai 800—1.000 persen. Melalui serapan yang cukup banyak setiap harinya, stok beras di gudang Bulog sekitar 1,9 juta ton beras akan mencukupi kebutuhan hingga akhir tahun.

Jika serapan gabah bisa konstan di angka 25 ribu—30 ribu per hari, bisa diprediksi kapasitas gudang beras hingga akhir tahun bisa mencapai 2,5—3 juta ton. Angka ini kemudian akan bertambah pada 2018 sehingga pada 2019 bisa diprediksi pemerintah tidak akan mengimpor beras.

Amran menegaskan bahwa pemerintah telah menggenjot kinerja untuk meningkatkan produksi gabah. Hal itu mulai dari penambahan lahan tani, pembuatan irigasi, hingga pemberian bibit unggul dilakukan agar produksi gabah setiap panen bisa bertambah. Jika biasanya panen hanya bisa dilakukan dalam kurun waktu tertentu, pemerintah berupaya agar setiap bulan bisa ada daerah yang melakukan panen.

Baca Juga:  Destinasi Wisata Kopi di Lampung, Seperti Apa Ya

“Ini bukan lagi seperti zaman dulu ada panen atau tidak panen. Hari ini setiap hari dengan strategi baru, tiap hari tanam, tiap hari panen, jadi tak ada hari tanpa tanam dan panen, juga mengolah tanah,” tambahnya.

Kementerian Pertanian telah mengeluarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 3 Tahun 2017, yang merupakan turunan dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 20 Tahun 2017 tentang penyerapan gabah. Salah satu isinya menuangkan bahwa Kementerian Pertanian wajib menyerap gabah meski memiliki kadar air 25—30 persen. Namun, harga yang diberikan kepada petani tidak turun atau sekitar Rp3.700 per kg.

Dengan peraturan ini, pemerintah mengharuskan semua pihak, baik BUMN maupun swasta yang menjadi mitra harus menyerap gabah meski kadar airnya lebih tinggi. Selanjutnya, gabah ini akan dikeringkan dengan dryer (pengering gabah) agar beras yang dihasilkan bermutu baik.

Direktur Pengadaan Bulog Tri Wahyudi mengatakan, Bulog tela menyiapkan anggaran sebesar Rp30 triliun untuk penyerapan gabah sepanjang 2017. Jika anggaran ini masih kurang, Bulog akan meminjam dana perbankan yang dijamin oleh pemerintah.

loading...
loading...