Kementan Tegaskan Akan Utamakan Kesehatan Daging Sapi Impor


Pertanianku – Indonesia memang kerap mengimpor daging sapi guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan bahwa daging sapi yang diimpor ke Indonesia sangat konsen mengutamakan kesehatan. Bahkan, ditinjau langsung ke negara asal daging diimpor.

“Kita buka keran impor dari banyak negara, tetapi kita juga lakukan pengetatan pada potensi ancaman bakteri, penyakit dan seterusnya,” kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita, baru-baru ini seperti melansir Republika (25/7).

Seperti daging kerbau yang diimpor dari India sudah melewati proses karantina. Jaminan bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) diberikan langsung oleh otoritas karantina India. Dengan begitu, peternak dan asosiasi untuk tidak perlu khawatir terkait ancaman penyakit hewan menular seperti PMK.

PMK tidak akan bisa masuk ke Indonesia melalui impor daging kerbau karena produk tersebut didatangkan dalam kondisi beku. Untuk diketahui, PMK dapat bertahan di suhu 23° C. “Sementara kita impor dalam bentuk beku, jadi PMK tidak mungkin bisa bertahan walau datangnya dari negara sumber,” ungkap Ketut.

Untuk itu, Kementan mengirim sebanyak 1.128 ahli ke negara-negara asal importir ternak ruminansia. Hal ini guna memastikan hewan atau produk turunannya sudah aman dari berbagai penyakit. Badan Karantina Pertanian pun telah melakukan pemeriksaan ketat terhadap rumah potong hewan (RPH) di India.

“Selain pemeriksaan dan tinjauan yang ketat dari Badan Karantina Kementan, daging kerbau India tersebut juga telah mendapat sertifikat internasional yang menjamin bahwa daging memang dalam kondisi sehat,” tambahnya.

Sementara itu, selain Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus SIWAB), penguatan skala ekonomi dan kelembagaan peternak dilakukan. Pemerintah telah menyusun serangkaian kebijakan, yakni mendorong pola pemeliharaan sapi dari perorangan ke arah kelompok dengan pola perkandangan koloni sehingga memenuhi skala ekonomi.

Baca Juga:  Populasi Sapi di Wilayah Ini Meningkat

Lebih lanjut ia menjelaskan, pendampingan kepada peternak oleh Sarjana Membangun Desa Wirausahawan Pendamping (SMD WP), Petugas Tenaga Harian Lepas (THL), dan Manajer Sentra Peternakan Rakyat (SPR).

Pengembangan pola integrasi ternak dan tanaman seperti integrasi sapi-sawit juga dilakukan seiring dengan pengembangan padang penggembalaan melalui optimalisasi lahan bekas tambang dan kawasan padang penggembalaan di Indonesia bagian timur. “Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS),” tutupnya.

loading...
loading...