Kementan Terus Berupaya Menstabilkan Harga Komoditas Unggas

Pertanianku— Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan terus berupaya menstabilkan harga komoditas unggas nasional sejak 26 Agustus 2020 hingga Januari 2021. Ditjen PKH telah menerbitkan sebanyak 6 Surat Edaran sebagai upaya membuat stabil harga perunggasan.

komoditas unggas
foto: Pertanianku

“Stabilitas perunggasan ini khususnya melalui pengendalian produksi DOC FS dengan cutting HE fertile dan afkir dini PS,” ujar Direktur Jenderal PKH Kementan, Nasrullah seperti dikutip dari laman ditjennak.pertanian.go.id.

Upaya stabilisasi terus dilakukan untuk mengendalikan penurunan konsumsi sebesar 20 persen karena dampak pandemi Covid-19. Nasrullah yakin angka konsumsi komoditas unggas akan beranjak naik lagi. Namun, pada Januari—Februari 2021 diperkirakan masih akan mengalami penurunan tingkat konsumsi karena efek pandemi.

Optimisme yang dilontarkan oleh Nasrullah berdasarkan upaya pengendalian produksi DOC FS yang sudah dilakukan sejak akhir Agustus hingga Januari 2021 dengan perkembangan harga livebird yang positif.

Upaya pengendalian produksi melalui cutting HE fertile dan afkir dini PS untuk menjaga keseimbangan penawaran dan permintaan telah memperlihatkan dampak yang positif terhadap perbaikan harga livebird di tingkat peternak.

Namun, pada Januari 2021, harga livebird di Pulau Jawa kembali mengalami kontraksi. Yang semula harganya Rp19.500 per kg sempat berangsur turun menjadi Rp17.500 per kg, dan kini naik kembali menjadi Rp18.500—Rp19.000 per kg, harga tersebut masih bertahan selama empat hari terakhir.

Beberapa upaya yang tengah dilakukan Ditjen PKH untuk menstabilkan harga komoditas unggas nasional adalah mengatur supply dan demand untuk mempermudah penelusuran sehingga pembibit GPS (grand parent stock) dan pembibit PS sudah wajib teregistrasi di Ditjen PKH. Sementara itu, peternak dan pelaku usaha pembudidaya FS komersial wajib teregistrasi di Dinas Kabupaten/Kota.

Baca Juga:  Meningkatkan Usia Simpan Selada Merah dengan Kemasan Plastik Berlubang

Untuk melindungi peternak skala mikro, kecil, dan menengah, pembibit PS wajib menyediakan DOC FS minimal sebanyak 50 persen dari produksi untuk dijual dengan harga yang sudah ditetapkan oleh Permendag dan kualitas sesuai SNI.

Ditjen PKH juga menerapkan kewajiban menyerap livebird dan memotong livebird di rumah pemotongan hewan unggas oleh perusahaan pembibit GPS yang menjalankan usaha dalam skala besar, sebesar produksi FS hasil turunan GPS.