Kementan Terus Dorong Pengendalian OPT Ramah Lingkungan

Pertanianku— Kementerian Pertanian berkomitmen mewujudkan pertanian maju, mandiri, dan modern yang menyejahterakan petani. Dalam rangka mewujudkan komitmen tersebut, Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto menyampaikan, tim Ditjen Hortikultura konsisten terus mengedukasi masyarakat dan petani terkait tata kelola budidaya. Salah satunya, dengan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) ramah lingkungan.

pengendalian OPT Ramah lingkungan
foto; Pixabay

Pengendalian OPT ramah lingkungan adalah meminimalisir penggunaan pestisida kimia dan memilih cara-cara yang disediakan oleh alam.

“Kegiatan bimtek ini bertujuan untuk menyebarluaskan informasi dan mengedukasi masyarakat terkait upaya pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Hortikultura. Usai webinar atau virtual literacy ini diharapkan jika ada OPT tidak buru-buru dibasmi dengan bahan kimia, namun dikendalikan dengan bahan-bahan alami. Semoga ilmu yang diberikan dapat bermanfaat dan diterapkan sehingga menghasilkan produk pertanian yang aman dikonsumsi,” tutur Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura, Retno Sri Hartati Mulyandari seperti dikutip dari laman hortikultura.pertanian.go.id.

Retno menjelaskan pengendalian hama hayati dapat dimaksimalkan dengan serangan musuh alami hama. Hal tersebut merupakan salah satu simbiosis mutualisme bagi tanaman. Agen pengendali hayati terus aktif mencari mangsa, tumbuh dan perkembangannya akan mengikuti dinamika populasi mangsa sehingga akan terjadi keseimbangan ekosistem.

Keunggulan pengendalian hayati adalah tingkat keberhasilan pengendalian hama yang tinggi dengan biaya yang rendah dalam periode waktu yang sama. Selain itu, pengendali hayati tidak akan menyebabkan dampak negatif bagi manusia.

Beberapa tipe agen pengendali hayati dapat digunakan sebagai insektisida hayati yang tidak membuat hama menjadi resisten terhadap agen pengendali hayati.

Kepala BPTPH Jawa Tengah, Herawati, mengatakan, sudah banyak kegiatan yang dilakukan di lingkungannya terkait penggunaan agen hayati.

“Antara lain penguatan kelembagaan perlindungan, gerakan pengendalian secara ramah lingkungan, fasilitas pembuatan bahan pengendali ramah lingkungan, serta penanganan dampak perubahan lingkungan (DPI),” ujar Herawati.

Baca Juga:  Mengenal Jenis Durian yang Tidak Bisa Dimakan

Pengendalian OPT dengan tanaman refugia telah terbukti memiliki beberapa keuntungan seperti jumlah pestisida yang digunakan berkurang drastis, banyak ditemukan parasitoid, ekosistem lahan semakin baik, serta biaya produksi dapat ditekan.

“Tanaman refugia dipilih karena diharapkan bisa menyehatkan para petani, tanaman, lahan, dan konsumen yang ikut mengonsumsi tanaman ikut sehat serta bermanfaat untuk ke depannya,” kata Shofyan Adi, salah seorang petani hortikultura.