Kenal Lebih Dekat dengan Ayam Joper, Jowo Super

Pertanianku Ayam joper atau jowo super merupakan inovasi yang dihasilkan dari persilangan antara ayam kampung unggulan dan ayam ras petelur. Persilangan tersebut berhasil menghasilkan ayam kampung dengan kelebihan yang disenangi oleh peternak. Tak heran, peminat ayam ini terus bertambah setiap tahunnya.

ayam joper
foto: pertanianku

Keunggulan pertama yang bisa dirasakan oleh peternak adalah pertumbuhan ayam joper yang lebih cepat dibanding jenis ayam kampung lainnya. Ayam kampung biasa yang dipelihara secara umbaran membutuhkan waktu untuk mencapai bobot 0,8—1 kg per ekor selama 4 bulan. Ayam joper hanya membutuhkan waktu maksimal selama 75 hari untuk mencapai kisaran bobot yang sama.

Bobot ayam kampung super ini dapat mencapai 0,8—1 kg hanya dalam kurun waktu rata-rata 60 hari, bahkan bisa kurang dari 60 hari. Rata-rata, ayam ini sudah bisa mendapatkan bobot 8 ons ketika umurnya sudah mencapai 50—55 hari, terutama untuk ayam jantan yang pertumbuhannya lebih cepat daripada betina. Pertumbuhan yang berjalan lebih cepat akan sangat berguna untuk mempercepat produksi dan perputaran modal peternak.

Kelebihan lain dari ayam jowo super ini terletak pada karakter tekstur dan cita rasa dagingnya. Cita rasa serta tekstur dari daging ayam kampung jowo super tidak berbeda dengan ayam kampung biasanya. Oleh karena itu, daging ayam kampung joper tetap bisa dinikmati oleh penggemar kuliner ayam kampung.

Ayam joper memiliki daya tahan tubuh yang bagus terhadap kondisi lingkungan serta serangan peyakit. Hal ini disebabkan oleh masih terdapat darah ayam lokal di dalam ayam hasil kawin silang ini.

Kelebihan lain dari ayam joper yang disukai oleh peternak adalah mudah dirawat. Karena daya tahan tubuh ayam terbilang kuat, pertumbuhannya dapat berlangsung dengan cepat. Anda hanya perlu menerapkan manajemen pemeliharaan yang sesuai dengan SOP.

Baca Juga:  Cara Mudah Membedakan Jenis Kelamin Anak Ayam

Seperti ayam kampung umumnya, ayam joper juga memiliki sifat kanibalisme. Sifat tersebut dapat muncul ketika pakan dan minum yang diberikan kurang, tingkat kepadatan tinggi, suhu di dalam kandang tidak stabil, dan ayam disatukan dalam ukuran yang berbeda-beda.