Kenal Lebih Dekat Kambing Kosta, Kambing Lokal Asal Banten

Pertanianku Kambing kosta merupakan hasil persilangan antara kambing lokal Indonesia yang biasa disebut sebagai kambing kacang dan kambing khasmir yang berasal dari India. Saat ini kambing hasil persilangan tersebut banyak ditemui di daerah Tangerang, Serang, dan Pandeglang.

kambing kosta
foto: http://banten.litbang.pertanian.go.id/

Tubuh kambing kosta didominasi oleh warna cokelat tua hingga hitam. Kambing yang berada di Kecamatan Cikeusik sebagian besar berwarna cokelat tua, sedangkan sisanya berwarna hitam.

Kambing kosta betina dewasa rata-rata berbobot 20 kg, sedangkan jantan sekitar 30—40 kg. Panjang tubuh kambing lokal ini sekitar 62 cm dan tingginya mencapai 59 cm.

Kambing lokal ini bersifat prolifik, yakni dapat beranak lebih dari satu. Periode bunting kambing berlangsung selama 146,33 hari dengan kisaran sekitar 142—148 hari. Jika induk melahirkan anak tunggal, bobot anak yang dilahirkan rata-rata sekitar 1,9 kg. Sementara itu, jika induk melahirkan anak kembar, bobot anak yang dilahirkan rata-rata sekitar 1,49 kg.

Ciri khas yang paling mudah ditemui pada kambing lokal ini terletak pada bulunya yang cenderung berwarna cokelat tua hingga hitam. Selain itu, pada bagian hidung terlihat rata, tetapi ada beberapa kambing kosta yang memiliki hidung melengkung. Ada juga beberapa jenis kambing yang berwarna putih atau cokelat di bagian hidungnya.

Tanduk dan bulu pada tubuh kambing terbilang cukup pendek. Panjang kuping kambing jantan sekitar 19 cm, sedangkan panjang kuping kambing betina sekitar 13,8 cm. Telinga kambing lokal ini termasuk tipe telinga tegak.

Tingkat adaptif kambing sangat bergantung pada produktivitasnya. Kambing sudah mulai birahi ketika berumur 5—7 bulan dan kambing sudah bisa kawin saat berusia 6—8 bulan. Kambing lokal ini bisa beranak sebanyak 12—15 kali sehingga induk kambing mampu menghasilkan anakan sebanyak 24—45 ekor selama masa produksi.

Baca Juga:  Kelebihan dan Kekurangan Tiap Jenis Kandang Itik

Kambing kosta dinilai cukup berpotensial untuk diternakkan sebagai penghasil daging. Oleh karena itu, pengembangannya tidak hanya bertujuan menjaga spesiesnya, tetapi juga untuk menjadi sumber protein hewani.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Puslitbangnak (Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan), kambing kosta jantan cukup sulit didapat. Oleh karena itu, keberadaan kambing lokal ini mulai sulit ditemukan.