Kenali Siklus Domba Birahi dengan Benar agar Perkawinan Berjalan Lancar

Pertanianku — Birahi pada domba merupakan hasrat untuk kawin yang terjadi karena adanya dorongan hormon serta terjadi pada domba betina dan jantan. Domba birahi menjadi salah satu hal yang menentukan kesuksesan perkawinan domba. Itu sebabnya peternak harus mempelajari siklus birahi pada domba dengan benar.

domba birahi
foto: pertanianku

Domba betina yang sedang birahi akan menunjukkan gejala gelisah, ribut, mengembik-embik, dan selalu berusaha mencari pejantan. Betina juga terlihat ingin menaiki kawanan yang ada di dalam kandang atau akan diam saja ketika dinaiki oleh pejantan. Bagian ekor terlihat dikibas-kibaskan, betina menjadi sering kencing dan mengalami penurunan nafsu makan. Jika diamati lebih jauh, kelamin bagian luar (vulva) terlihat membesar, berwarna merah, dan hangat.

Dari seluruh gejala yang disebutkan tadi, biasanya hanya sebagian kecil yang bisa terlihat. Oleh karena itu, peternak harus jeli dalam mengamati gejala birahi. Jika tidak, peternak akan kehilangan kesempatan dalam melakukan perkawinan yang efisien. Periode domba birahi akan terjadi setiap 17 hari sekali atau dengan variasi 15—20 hari sekali.

Domba jantan hanya akan mengawini domba betina yang sedang birahi. Di luar masa birahi, domba betina tidak ingin didekati pejantan. Biasanya, birahi terjadi selama 30—40 jam atau 1—2 hari. Pada periode yang terbilang singkat tersebut menjadi waktu yang tepat untuk terjadi perkawinan. Sebaiknya, perkawinan dilakukan pada hari kedua masa birahi terjadi.

Ovulasi akan terjadi setelah 24—30 jam atau 1—2 hari birahi berlangsung. Domba betina bisa melepaskan 1—2 buah sel telur yang matang dalam satu kali ovulasi. Jumlah sel telur yang diovulasikan betina sangat dipengaruhi oleh kualitas pakan yang diberikan, umur, dan berat domba. Semakin bertambahnya umur dan bobot induk atau semakin baik kualitas pakan yang diberikan, jumlah sel telur yang diovulasikan akan terus meningkat.

Baca Juga:  Tantangan Ternak Burung Puyuh

Induk yang akan dikawinkan harus diberikan pakan tambahan berupa konsentrat sebanyak 0,5 kg/hari/ekor selama tiga minggu. Tujuannya, agar induk lebih kuat dan jumlah sel telur yang diovulasikan juga meningkat. Dengan demikian, kemungkinan melahirkan anak kembar semakin membesar.