Kenalkan Biosoy 1 dan 2, Varietas Unggul Baru Kacang Kedelai


Pertanianku — Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian berhasil menghasilkan varietas unggul baru (VUB) kacang kedelai yang disebut dengan Biosoy 1 dan 2. Kedua VUB ini memiliki potensi hasil dan berbiji lebih besar daripada varietas Anjasmoro dan Grobogan.

Biosoy 1 dan 2
Foto: Pixabay

Biosoy 1 dan 2 diresmikan berdasarkan hasil sidang pelepasan varietas Pusat Perlidungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian. Peresmian ini diperkuat dengan Surat Keputusan Menteri Pertanian No 343/Kpts/TP.010/05/2018 dan No 344/Kpts/TP.010/05/2018.

Biosoy 1 memiliki potensi hasil 3,3 ton per hektare dan Biosoy 2 memiliki potensi hasil 3,5 ton per hektare. Potensi hasil ini lebih besar sekitar 20 persen dari varietas Grobogan dan sekitar 18 persen dari varietas Anjasmoro.

Kedua varietas ini diklaim memiliki stabilitas hasil yang luas di berbagai lokasi pengujian. Galur Biosoy 1 dan Biosoy 2 memiliki umur yang relatif sama (83—84 hari), serta terlihat jauh lebih besar daripada Grobogan dan Anjasmoro.

Biosoy 1 memiliki berat 21,74 gram per 100 biji dan 22,35 gram per 100 biji. Ukuran biji ini mirip dengan biji kedelai impor yang berbobot sekitar 20 gram per 100 biji.

Ukuran batang Biosoy 1 dan 2 juga sangat besar dan kokoh. Kendati demikian, Biosoy 1 dan 2 memiliki jumlah polong yang lebih sedikit dibandingkan dengan varietas Anjasmoro, yakni 16,14 gram per100 biji dan juga lebih besar dari Grobogan 20,72 gram per 100 biji. Varietas Biosoy 1 dan Biosoy 2 juga memiliki diameter batang yang lebar.

Tak hanya itu, Unit Pengelola Benih Sumber BB Biogen juga akan memproduksi benih penjenis dan benih dasar varietas Biosoy 1 dan Biosoy 2 pada musim tanam pertama musim tanam kedua 2018.  Diproyeksikan pada musim tanam kedua 2018 dan musim tanam 2019, benih pokok dan benih dasar dapat didistribusikan ke petani-petani di seluruh Indonesia.

Baca Juga:  3 Kelebihan Sistem Akuaponik Dibanding Hidroponik

Harapannya, benih sebar kedua varietas unggul baru ini dalam kurun waktu yang tidak terlalu lama sudah dapat didistribusikan ke petani-petani di berbagai wilayah di Indonesia.

Jika dapat dilakukan, tentu akan berdampak terhadap peningkatan produksi nasional kedelai menuju swadembada kedelai pada 2020 mendatang.