Kendala yang Sering Dialami Saat Melakukan Inseminasi Buatan pada Ternak

Pertanianku — Saat ini teknologi inseminasi buatan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan peternakan di Indonesia. Teknologi ini dapat meningkatkan jumlah hewan ternak secara signifikan dengan waktu yang lebih singkat jika dibandingkan dengan perkawinan biasa. Namun, pelaksanaan teknologi ini memiliki beberapa kendala yang sering dialami di lapangan. Berikut ini beberapa kendala inseminasi buatan yang sering dirasakan peternak dan petugas.

kendala inseminasi buatan
foto: Pertanianku

Akses terhadap akseptor IB

Kondisi topografi Indonesia terkadang menjadi kendala dan permasalahan tersendiri dalam pelaksanaan IB. Lokasi peternakan yang jauh dan sulit dijangkau petugas lapangan untuk melakukan IB karena butuh waktu tempuh, sedangkan masa birahi ternak sangat terbatas. Oleh karena itu, peternak dan petugas lapang harus tepat memperkirakan masa birahi ternak.

Mahalnya harga dan biaya pemeliharaan pejantan unggul

Bahan semen yang digunakan pada inseminasi buatan harus berasal dari pejantan unggul agar anakan yang dihasilkan unggul. Pejantan unggul memiliki harga yang tinggi, seperti harga kambing boer murni yang sangat mahal di pasaran. Untuk sapi simental dan limousin, misalnya, harga pejantan yang didatangkan dari Australia dapat mencapai Rp100—Rp150 juta per ekor.

Di samping harga pejantan yang mahal, biaya pemeliharaannya juga mahal. Misalnya, biaya pakan pejantan simental atau limousin berkisar Rp50.000 per ekor per hari.

Permasalahan dari peternakan itu sendiri

Di Indonesia masih banyak peternakan sapi dan kambing yang dikelola sebagai usaha peternakan rakyat dan sebagai pekerjaan sampingan. Skala pemeliharaan sangat bergantung pada tenaga kerja keluarga dan kemampuan peternak. Padahal, IB akan lebih sukses jika jumlah ternak yang dipelihara lebih banyak.

Kekurangan tenaga teknis yang andal

Jumlah tenaga teknis lapangan yang andal masih dirasakan kurang. Keterampilan inseminator akan berpengaruh signifikan pada kebuntingan ternak. Kegagalan pada pelaksanaan IB oleh inseminator sangat berpengaruh terhadap minat masyarakat melakukan IB berikutnya.

Baca Juga:  Kriteria Kandang Itik yang Ideal

Kesuksesan IB ditentukan oleh waktu inseminasi yang tepat saat ternak berahi. Untuk meningkatkan keterampilan petugas, perlu pelatihan dan penyegaran petugas secara berkala. Hal ini karena teknis inseminasi memerlukan keterampilan khusus yang tidak mudah dilakukan oleh orang yang tidak dilatih khusus untuk keperluan tersebut.