Kesulitan Mendapat Air, Petani Bawang Merah Wonosari Minta Solusi


Pertanianku Petani bawang merah di Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kesulitan mendapat air untuk menyirami tanaman mereka. Padahal, potensi lahan yang bisa ditanami komoditas pangan tersebut cukup luas.

Petani bawang merah
Foto: Google Image

Ketua Kelompok Tani Sedyo Makmur Dusun Dlodokan, Desa Pulutan, Gunung Kidul, Wasito mengharapkan, pemkab dapat memberikan solusi terkait pemenuhan air untuk mengairi lahan.

“Potensi pertanian di sini besar sebenarnya. Salah satunya bawang merah yang saat ini masuk panen. Namun, saat ini masih ada kendala pemenuhan airnya,” katnya, seperti dikutip Republika, Selasa (5/9).

Namun demikian, ia tetap menghimbau agar para petani hemat air dalam menyikapi kendala tersebut. Tujuannya, agar tanaman bawang merah bisa tetap tumbuh dan berkembang sehingga bisa mendapatkan panen maksimal.

“Alhamdulilah saat ini sudah mulai masuk masa panen,” ujar Wasito.

Untuk memenuhi kebutuhan air, Wasito mengungkapkan bahwa petani memanfaatkan air dari sumur di ladang. Namun, hal tersebut belum bisa menjangkau untuk keseluruhan lahan milik petani.

“Ada air dari sumur, tetapi cakupannya sangat terbatas. Kalau yang dibutuhkan saat ini peralatan seperti kultivator, karena masih minim,” ungkap dia.

Wasito menuturkan, dengan peralatan kultivator pengolahan lahan petani akan lebih mudah sehingga tenaga yang dikeluarkan petani pun tidak banyak. Akan tetapi, untuk regenerasi petani sendiri menurutnya saat ini sudah baik.

Sementara itu, Kepala Desa Pulutan, Tri Untoro mengatakan, saat ini dukungan dari Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul sudah cukup besar. Hanya saja, memang masih belum ada solusi yang konkret terkait pengairan.

“Saat ini pemanfaatan air belum maksimal. Harapannya bendungan di Ngaliyan dapat dimaksimalkan, sehingga penyiraman tidak ada kendala,” tutur Tri.

Baca Juga:  Panen Bawang Melimpah Tanpa Fusarium, Begini Caranya

Kepala Bidang Perkebunan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Gunung Kidul, Budi Sudartanto juga mengakui, untuk wilayah Pulutan memang memiliki potensi. Namun, masih ada beberapa kendala.

“Saat ini air masih menjadi kendala, memang menjadi prioritas untuk masalah air itu. Kedua itu masalah alat, salah satunya kultivator, dengan alat itu biaya produksi lebih rendah,” tandasnya.

Ia mengatakan, sinergisme dari berbagai pihak untuk mengembangkan sektor pertanian sangat penting. “Misalnya swadaya pengadaan alat. Sebab, potensi di sini (Pulutan, red) sangat tinggi,” katanya.