Ketahui Kriteria Pemilihan Bibit Ayam

Pertanianku – Ayam petelur yang ada saat ini merupakan hasil persilangan dan seleksi yang terjadi bertahun-tahun lalu. Pemilihan bibit ayam erat kaitannya dengan strain ayam yang memiliki kesamaan umum dalam hal penampakan fisik, baik ukuran, bentuk, profil, dan pembawaan.

Ketahui Kriteria Pemilihan Bibit Ayam

Oleh karena itu, semua ayam dalam suatu strain yang sama akan memilik karakteristik yang sama, misalnya warna kulit, warna kerabang telur, dan warna bulu. Berikut beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih bibit ayam petelur.

Loading...

1) Harga DOC yang tidak terlalu mahal.

2) Pertumbuhan anak ayam relatif cepat.

3) Ayam cepat mencapai dewasa kelamin (18—20 minggu).

4) Produksi telur ayam yang tinggi dan persisten.

5) Ukuran telur normal (60—65 g untuk ayam ras luar negeri; 30—40 g untuk ayam lokal).

6) Warna dan ketebalan kerabang telur yang normal. Secara umum terdapat dua warna kerabang telur yang normal, yaitu cokelat dan putih.

  • Kerabang telur berwarna putih yang terbaik dihasilkan dari ayam ras petelur dari luar negeri jenis ras leghorn. Karakteristik ayam ini suka terbang dan sangat berisik. Jenis ayam lainnya yang menghasilkan kerabang telur berwarna putih, yaitu anconas, california white, dan minorcas. Umumnya warna kerabang telur yang dihasilkan oleh ayam dapat diperkirakan dengan melihat warna cuping telinga ayam. Ayam-ayam yang mempunyai cuping telinga berwarna putih akan menghasilkan kerabang telur berwarna putih. Namun, ayam petelur ras lokal Indonesia, seperti ayam kampung, kedu, sentul, kampung tolaki, arab, dan wareng juga menghasilkan telur berkerabang putih walaupun cuping telinganya ada yang berwarna merah.
  • Kerabang telur berwarna cokelat dihasilkan dari ayam petelur dari luar negeri, seperti rhode island reds. Ayam-ayam yang mempunyai cuping berwarna merah akan menghasilkan kerabang telur berwarna cokelat.
Baca Juga:  Sistem Penggemukan yang Bisa Diaplikasikan untuk Beternak Sapi Limousin

7) Kualitas telur yang bagus.

8) Sifat mengeram yang rendah (hampir tidak ada).

9) Nilai apkir ayam yang tinggi (juga sebagai penghasil daging).

10) Konversi pakan rendah.

11) Karakteristik fisik ayam sesuai dengan kondisi iklim. Umumnya ayam yang memiliki bulu tebal akan lebih sesuai untuk dipelihara di lokasi yang bercuaca dingin daripada ayam yang memiliki bulu tipis. Contoh ayam yang berbulu tebal, yaitu cochins, plymouth rocks, orpingtons, rhode island reds, dan wyandottes. Sementara andalusian, hamburgs leghorn, minorca, mediterranean lainnya, dan ayam lokal Indonesia akan lebih sesuai jika dipelihara di lokasi-lokasi yang lebih hangat. Untuk menghasilkan strain yang akan dilepas ke pasaran, pembibit (breeder) ayam petelur menyilangkan beberapa galur sesuai dengan target produktivitas dan pasar yang akan dituju.

12) Kemampuan adaptasi ayam yang tinggi terhadap lingkungan sehingga prestasi produksi ayam di lapang juga tinggi.

 

Sumber: Buku Sukses Meningkatkan Produksi Ayam Petelur

Loading...
Loading...