Keunggulan Kakao Masamba

Pertanianku — Salah satu kunci keberhasilan budidaya kakao adalah memilih klon kakao yang tepat seperti kakao masamba. Keistimewaan masamba terletak pada ukuran buahnya yang relatif besar. Petani di Desa Salulemo, Kecamatan Baebunta, Provinsi Sulawesi Selatan, berhasil memanen kakao masamba dengan rata-rata bobot mencapai 700–900 gram per buah sehingga setiap kilogram terdiri atas 11–13 buah.

kakao masamba
foto: pertanianku

Bobot yang dimiliki masamba tergolong lebih besar bila dibandingkan dengan varietas lain yang rata-rata satu kilogram terdiri atas 20–23 per buah atau separuh dari bobot masamba. Pekebun di Sulawesi Selatan, Kecamatan Baebunta, Desa Salulemo, yang semula menggunakan varietas Sulawesi 1 dan 2 kini mulai berganti ke masamba. Dahulu, mereka hanya bisa mendapatkan hasil panen sebanyak 2 ton, kini panen yang didapatkan bisa mencapai 3 ton.

Kakao masamba dirilis oleh Kementerian Pertanian pada 2014 yang terdiri atas dua klon, yaitu MCC-01 dan MCC-02. Berdasarkan hasil pengamatan, petani lebih sering menggunakan klon MCC-02. Meskipun begitu, MCC-01 tetap menjadi klon unggul dari sisi produksi hanya saja masih rentan terhadap serangan hama penggerek busuk buah kakao.

Produksi klon MCC-01 mencapai 86,26 buah per pohon, 39,9 biji per tongkol, produksi rata-rata 3,3 kg per pohon, atau 3,672 kg per hektare per tahun. Sementara itu, MCC-02 rata-rata menghasilkan 2,82 kg per pohon atau 3,132 kg per hektare per tahun.

Ukuran biji kedua varietas tersebut terbilang lebih besar dibanding varietas lain yang sudah dilepas terlebih dahulu. Bobot biji kering MCC-01 mencapai 1,75 gram dan MCC-2 mencapai 1,61 gram.

Klon MCC-01 memiliki ukuran buah besar, permukaan kulit buah kasar, buah berwarna hijau muda dan saat masak berubah menjadi hijau kekuningan. Adapun MCC-02 berukuran sedang, permukaan kulit buah halus, buah berwarna tua mengilap dan akan berubah menjadi merah kekuningan saat masak.

Baca Juga:  Produksi Cabai Meningkat dengan Proliga

Keunggulan lain dari klon masamba adalah mudah dirawat karena tahan terhadap beberapa serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Klon MCC-01 dan MCC-02 merupakan hasil seleksi dari kakao jenis lokal yang dilakukan oleh petani di Kabupaten Luwu. Klon MCC-01 ditemukan oleh Mukhtar pada 2001. Adapun klon MCC-02 ditemukan oleh Andi Mulyadi dan dikenal dengan nama M-45.