Keuntungan Budi Daya Ikan Nila

Pertanianku – Budi daya ikan nila di Jawa Barat (KJA Cirata dan Jatiluhur), pada umumnya dilakukan bersamaan dengan budi daya ikan mas. Para pembudidaya memelihara ikan nila di bawah jaring yang digunakan untuk memelihara ikan mas, yaitu jaring kolor. Sistem jaring kolor ditemukan secara tidak sengaja oleh pembudidaya di Waduk Cirata dengan tujuan untuk memanfaatkan pakan yang tidak dimakan oleh ikan mas. Penemuan ini segera berkembang dengan pesat karena para pembudidayamendapatkan keuntungan ganda. Pertama, berasal dari ikan mas dan lainnya dari ik an nila. Bahkan, dalam perkembangan selanjutnya, budi daya ikan nila menjadi tulang punggung para pembudidaya. Hal itu menginga budi daya ikan mas mengalami beberapa kendala yang tidak kecil. Contohnya adalah serangan virus herpes koi (KHV) sehingga mengurangi keuntungan yang diperoleh para pelaku usaha, bahkan beberapa di antaranya mengalami kerugian.

Nila

Di Waduk Cirata, serangan KHV terjadi lebih berat dibandingkan dengan waduk Jatiluhur. Ikan nila yang dipelihara bersama ikan mas pun ikut mengalami nasib yang serupa. Kerugian demi kerugian yang dialami petani ikan mas di KJA Cirata membuat sebagian dari mereka gulung tikar atau banting setir ke komoditas lain. Sementara itu, budi daya ikan mas di Waduk Jatiluhur masih tetap berlangsung hingga kini dengan tingkat kelangsungan hidup rata-rata 91% dan efisiensi pakan 57% pada tahun 2011 (Nugroho, 2012).

Loading...

Penggunaan ikan nila varietas “#1” dimulai pada tahun 2011 di beberapa KJA Waduk Jatiluhur. Data yang diolah adalah hasil panen mulai bulan Mei hingga Desember 2011. Pada Tabel 1, terlihat bahwa dengan kepadatan rata-rata yang digunakan antara 5—8 ekor/m3 penggunaan benih nila #1 dapat meningkatkan pertambahan biomassa total dari 373 kg menjadi 959 kg. Dengan kata lain, pertambahan biomassa per harinya meningkat dari 3,8 kg menjadi 8,8 kg. Sementara itu, kelipatan produksidari berat total tanam meningkat dari benih lokal yang hanya sekitar 2,4 kali menjadi 3,9 kali jik a menggunakan benih nila #1. Demikian juga dari segi keuntungan yang tercatat sekitar Rp1.500.000 per kolor pada benih lokal menjadi Rp6.800.000 pada benih nila #1.

Baca Juga:  Hama yang Sering Mengganggu Ikan Gurami

Peningkatan ini lebih besar lagi jika waktu pemeliharaan menjadi lebih lama (Tabel 2). Dari Tabel 2, terlihat bahwa total penambahan biomassa menjadi 1.263 kg (dari 959 kg) atau pertambahan biomassa harian menjadi  9,2 kg (dari 8,8 kg). Selanjutnya kelipatan produksi meningkat dari 3,9 kali menjadi 5,2 kali jika waktu pemeliharaan ditambah sekitar 30 hari lagi.

Selain itu, keuntungan juga meningkat menjadi Rp7.021.000 per kolor dari Rp6.880.000. Fenomena ini semakin memberi keyakinan bahwa benih nila #1 dapat digunakan sebagai modal untuk melipatgandakan produksi. Berdasarkan pengalaman Saepudin, salah satu pemilik KJA di waduk Jatiluhur, ia mendapatkan panen sebanyak 1,4 ton nila #1 dari penebaran yang hanya 200 kg. Luas 1 unit KJA untuk pemeliharaannya berdimensi 15 m x 15 m. Pemeliharaan tersebut dilakukannya di jaring kolor dan nila dipelihara bersama ikan mas sebagai komoditas utama. Padahal, Saepudin biasanya hanya memanen 700 kg dari pemeliharaan selama empat bulan. Berdasarkan perhitungan dari para ahli yang membuatnya, jika nila #1 tersebut dipelihara secara tunggal dengan menggunakan padat tebar yang sama, pembudidaya dapat meraup panen hingga 5 ton. Jadi, kesimpulannya, budi daya nila #1 lebih menguntungkan bukan?

Loading...
Loading...