Keuntungan Budidaya Bawang Merah Ramah Lingkungan dengan Petisida Alami

Pertanianku — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk pertanian yang berkualitas, baik dari segi tampilan maupun kandungan gizi. Dengan begitu, produk hortikultura seperti buah, florikultura, sayuran, jamur, dan tanaman obat harus aman dikonsumsi dan rendah residu pestisida. Hal tersebut bisa dicapai dengan budidaya ramah lingkungan, seperti yang sedang diterapkan pada budidaya bawang merah.

budidaya bawang merah
foto: Pertanianku

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, mengatakan ada banyak manfaat yang bisa didapatkan petani ketika menerapkan budidaya ramah lingkungan. Apalagi, saat ini sudah banyak bahan pengendali ramah lingkungan dan pestisida alami yang dapat digunakan.

Inti Pertiwi, Direktur Perlindungan Hortikultura, mengungkapkan, perlu adanya upaya dari seluruh pihak agar pestisida alami dapat digunakan oleh petani.

“Kita semua ini punya target, yaitu mengurangi penggunaan pestisida kimia dan beralih ke pestisida alami. Perlu upaya kita semua, baik dari pemerintah, akademisi, petani, hingga petugas di lapangan untuk bisa mencapai target yang diinginkan,” tutur Inti seperti dikutip dari laman hortikultura.pertanian.go.id.

Di tahun ini sudah ada 199 Kampung Bawang Merah yang sedang dikembangkan di seluruh Indonesia. Bawang merah merupakan komoditas strategis hortikultura yang harganya ditetapkan melalui harga acuan pemerintah.

POPT Balai Proteksi Tanaman Pertanian Yogyakarta, Rais Sulistyo Widiyatmoko, mengatakan, petani perlu mengenal OPT (organisme pengganggu tanaman). Hal ini karena keberhasilan pengendalian OPT sangat bergantung pada identifikasi jenis OPT yang menyerang.

Rais menambahkan ada empat OPT yang kerap menyerang tanaman bawang merah, yakni ulat bawang, trips, lalat penggorok daun, dan orong-orong. OPT tersebut dapat dikendalikan dengan menggunakan varietas bawang yang adaptif, menggunakan perangkap likat warna, menggunakan perangkap lampu, melakukan pengendalian fisik atau mekanis, pengendalian hayati, serta penggunaan pestisida nabati.

Baca Juga:  Pemupukan Mangga yang Sesuai dengan Kondisi Tanaman

Usep Yudiman, petani asal Yogyakarta sudah menggunakan perangkap lampu atau light trap untuk semua komoditas hortikultura yang sedang ditanam.

“Saya sudah mencoba ke bawang merah, cabai, kangkung, melon, kemangi, bahkan padi. Bahkan ada perbandingan antara menggunakan light trap dan tidak memakai dengan jarak 50 meter. Yang tidak menggunakan, mendapat serangan yang luar biasa. Memang masih ada ulat hijau, tapi bisa diatasi. Light trap memang tidak bisa mengatasi seluruhnya, namun efekif mengendalikan hama,” papar Usep.

Usep menjelaskan keberhasilan pengendalian OPT terletak pada pengamatan terhadap hama dan mengatasinya sedini mungkin. Light trap sebaiknya dipasang sebelum penanaman untuk mengetahui ada atau tidaknya hama di lokasi tersebut.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Loekas Soesanto mengatakan pengendalian OPT dan penyakit lebih diutamakan dengan pengendalian hayati yang ramah lingkungan untuk menjaga tanaman tetap sehat, produktivitas tinggi, aman, dan lebih murah.