Khasiat Tanaman Rangga Dipa

PertaniankuRangga dipa atau Clerodendrum indicum L. memiliki nama sebutan yang berbeda-beda di beberapa daerah. Misalnya, di Jawa tumbuhan ini disebut un apiun dan sekar petak. Di Jakarta tumbuhan ini dikenal sebagai biduyuk dan mamadatan. Sementara itu, di Sunda tumbuhan ini lebih dikenal dengan nama genje.

rangga dipa
foto: By Forest & Kim Starr, CC BY 3.0, https://commons.wikimedia.org/w/index.php?curid=6156532

Tumbuhan rangga dipa merupakan perdu tegak berbatang hijau keunguan. Batang tanaman yang dipotong akan terlihat memiliki rongga di bagian tengahnya. Daun tanaman berbentuk garis, berwarna hijau tua mengilap, dan bagian tepi daun rata bergelombang. Posisi duduk daun melingkar berseling, dalam satu lingkaran terdapat tiga daun, bagian pangkal dan ujung daun meruncing, panjangnya mencapai 6—15 cm dan lebar 1—1,5 cm.

Bagian tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat herbal adalah daun. Daun rangga dipa mengandung alkaloid, saponin, dan polifenol. Sementara itu, pada bagian akar terdapat saponin, polifenol, dan flavonoid.

Penyakit yang bisa diatasi oleh tanaman ini, antara lain radang saluran kencing, asma, dan rematik. Berikut ini ramuan daun rangga dipa untuk menyembuhkan beberapa penyakit.

  • Radang saluran kencing: rebus rangga dipa dan rumput lidah ular secukupnya dengan tiga gelas air hingga airnya tersisa satu gelas. Minum air rebusan tersebut.
  • Keselo atau rematik: lumatkan atau tumbuk daun tanaman, kemudian tempelkan lumatan daun pada bagian tubuh yang sedang sakit.
  • Sesak napas atau asma: jemur daun hingga kering, kemudian gulung daun dan isap daun seperti rokok untuk melegakan sesak napas atau asma.

Hingga saat ini tanaman rangga dipa terkenal sebagai salah satu tanaman yang dapat digunakan untuk menyembuhkan beragam penyakit. Namun, kandungan kimia tumbuhan ini masih belum banyak diketahui.

Baca Juga:  Manfaat Umbi Gadung sebagai Obat Herbal

Rangga dipa merupakan tumbuhan liar yang dapat dijumpai di ladang, pinggir hutan, pinggir perkampungan, lahan terbuka atau agak terlindung, dan tanah yang agak lembap seperti di kebun pisang. Petani buah dan perkebunan menganggap tumbuhan ini sebagai gulma.

Untuk menghindari kontraindikasi yang tidak diinginkan, sebaiknya ibu hamil dan sedang menyusui tidak mengonsumsi rangga dipa sebagai obat herbal.