Kiat Budidaya Cabai di Dataran Tinggi agar Produksinya Tinggi

Pertanianku — Bukan hal yang mustahil apabila Anda ingin mendapatkan hasil panen cabai yang tinggi di dataran tinggi. Kuncinya adalah sistem budidaya intensif yang dilakukan dengan tepat. Berikut ini pola budidaya cabai di dataran tinggi yang bisa Anda ikuti.

budidaya cabai
foto: Pertanianku

H-24

Petani sudah bisa memulai mempersiapkan persemaian. Caranya, campur humus bambu dan pupuk kandang dengan jumlah perbandingan yang sama. Siram media tanam dengan ramuan organik untuk hama (roma) dan biarkan selama 1–2 hari. Selanjutnya, semprot media tanam dengan larutan organik untuk tanaman (rotan), PGPR, dan Trichoderma dan biarkan selama 7 hari.

H-14

Buat bedengan selebar 1 m dan panjang disesuaikan dengan ukuran lahan. Taburkan pupuk kandang sebanyak 1 karung untuk 10 m bedengan. Selanjutnya, siram roma serta campuran bawang putih, cabai rawit merah, dan tembakau dengan konsentrasi 1 liter per 10 liter air. Siram kembali bedengan dengan campuran 1 liter rotan, 1 liter PGPR, 1 liter larutan Trichoderma, dan 1 kg gula yang dilarutkan bersama 200 liter air, lalu tutup bedengan dengan mulsa plastik selama 14 hari.

Siapkan benih dengan cara rendam benih di dalam air hangat selama 3–5 menit, kemudian rendam kembali benih di dalam larutan roma selama 10–15 menit, lalu tiriskan. Rendam kembali benih cabai dalam larutan rotan dan PGPR selama 12 jam.

Setelah benih siap, semai benih pada media semai yang sebelumnya sudah Anda siapkan. Masukkan 1 biji benih per lubang tanam. Siram polibag media semai dengan larutan berdosis 10 ml/liter air. Tutup atau naungi persemaian dengan terpal hingga benih mengeluarkan daun pertama. Setelah 14 hari, diperkirakan akan muncul 5 daun.

H+7

Semprotkan tanaman dengan larutan roma berdosis 1 liter/10 liter air.

Baca Juga:  Buah Tomat Tanpa Biji

H+14

Siram tanam dengan larutan campuran 1 liter POC vegetatif dan 1 liter Trichoderma yang diencerkan dengan 200 liter air. Penyiraman cukup dilakukan hingga tanah terlihat basah. Pada periode ini Anda juga perlu membuang tunas air yang muncul di bawah cabang pertama.

H+25

Setelah tanaman berdaun 8–10, potong tunas 1 cm di bawah tunas untuk merangsang pertumbuhan cabang baru. Selanjutnya, siram media tanam dengan campuran 100 ml rotan, 100 ml Trichoderma, 1 liter POC vegetatif, dan 500 gram gula. Campuran tersebut dilarutkan di dalam 200 liter air sebelum digunakan. Sebelum digunakan, encerkan 1 gelas larutan dalam 14 liter air.

H+45

Potong kembali tunas saat muncul bunga pertama dari cabang kedua. Saat bunga kembali muncul, semprotkan tanaman dengan larutan POC generatif dengan konsentrasi 1 liter/150 liter air dan larutan roma setiap pekan secara bergantian. Apabila pada periode ini tanaman terserang hama dan penyakit, segera atasi penyakit secara mekanik. Kalau serangan sudah tidak bisa teratasi, gunakan campuran larutan roma, bawang putih, cabai rawit merah, dan tembakau.

H+90–100

Panen perdana sudah bisa dimulai.