Kiat Membuat Bibit Belimbing dengan Teknik Okulasi

Pertanianku — Tanaman belimbing dapat diperbanyak dengan cara generatif dan vegetatif. Hal terpenting yang harus Anda ketahui ialah kualitas bibit sangat menentukan keberhasilan budidaya. Itu sebabnya Anda harus menghasilkan bibit yang berkualitas bila ingin mendapatkan tanaman yang bagus. Begitu pun ketika membeli bibit, Anda harus memilih bibit yang bagus. Apabila Anda memilih untuk membuat bibit belimbing sendiri, sebaiknya lakukan dengan teknik okulasi dan sambung.

bibit belimbing
foto: Pixabay

Tanaman belimbing jarang diperbanyak dengan cangkok karena tanaman ini sulit membentuk akar. Langkah pertama saat membuat bibit belimbing adalah menyiapkan peralatan seperti silet/pisau cutter, gunting tanaman, dan pengikat seperti tali rafia. Setelah itu, siapkan cabang entris dan bibit semai.

Berikut ini langkah-langkah membuat bibit belimbing dengan teknik okulasi.

Bibit semai dan cabang entris

Bibit semai diambil dari hasil penyemaian biji yang dilakukan selama 4–8 bulan. Bibit yang diambil tingginya 30 cm. Bibit semai akan digunakan sebagai batang pokok atau bawah pada pembuatan bibit okulasi.

Selain itu, Anda juga harus menyiapkan cabang sekunder yang panjangnya berkisar 5–20 cm, berdaun hijau muda, dan ujung daunnya sudah menua. Ujung tersebut bernama cabang entris. Cabang entris harus diambil dari pohon induk dan berasal dari cabang primer atau sekunder. Cabang diambil dari tanaman belimbing unggul yang sudah berbuah.

Membuat bibit okulasi

Setelah bibit semai dan cabang entris tersedia, okulasi dapat dimulai dengan memilih bibit semai yang tumbuh kekar, batangnya lurus, dan tidak bercabang. Buatlah celah menyerupai jendela pada bagian batang bawah setinggi 5–15 cm. Caranya, sayat ke bawah kulit batang bawah sepanjang 2–3 cm dan lebar 1 cm. Selanjutnya, potong kulit sayatan setengahnya sampai membentuk lidah terbuka.

Baca Juga:  Tanaman Jagung Juga Bisa Sakit Meski Tidak Diserang Patogen

Setelah itu, sayat mata tunas secara perlahan beserta bagian kayunya pada cabang entris yang baru diambil dari pohon induk. Cabang tersebut harus memiliki mata tunas yang sudah terlihat sedikit melengkung ke atas. Ukuran sayatan mata harus diatur sama dengan atau lebih kecil dari celah di bawah lidah sayatan batang bawah. Lepaskan sayatan mata secara perlahan pada bagian kayu di bawah mata entris atau mata tunas agar tidak pecah.

Sisipkan mata tunas tidak berkayu ke dalam jendela di bawah lidah batang bawah. Letakkan mata tunas tepat di bawah lidah sampai bagian tepi mata tunas menyentuh bagian tepi jendela, tetapi tidak boleh menindih.

Balut mata tempel dengan tali rafia sampai kencang dari bawah ke atas hingga membentuk susunan seperti genting sirap. Titik mata tunas sebaiknya jangan tertutup balutan. Balutan baru dibuka setelah mata tempel sudah tampak hidup dan menyatu. Kondisi tersebut biasanya terjadi antara 21–35 hari dari waktu okulasi.

Selanjutnya, potong bagian batang bawah agar tidak tumbuh lagi hingga zat makanan yang tersedia hanya untuk pertumbuhan mata tempelnya. Potong batang bawah tepat 1–2 cm di atas mata tunas setelah mata tempel tumbuh atau bertunas sepanjang 3–5 cm. Simpan hasil okulasi ini di tempat yang teduh hingga bibit bisa ditanam.