Kiat Mengendalikan Serangan Hama Ulat Grayak pada Jagung

Pertanianku Hama ulat grayak (Spodoptera frugiperda) merupakan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang mengganggu produktivitas jagung. Hama ini berasal dari Benua Amerika dan sudah menyebar ke beberapa negara. Kehilangan hasil panen akibat ulah hama ini pertama kali terjadi pada awal 2019.

hama ulat grayak
foto: http://kaltim.litbang.pertanian.go.id/

Larva S. frugiperda memiliki kemampuan makan yang tinggi. Larva tersebut akan masuk ke bagian tanaman dan aktif memakan bagian tersebut. Ulat grayak terbilang sulit dideteksi ketika jumlahnya masih sedikit. Beberapa tanaman pangan yang berpotensial untuk diserang ulat grayak adalah jagung, padi, gandum, sorgum, dan tebu.

Pada musim panas, siklus hidup ulat grayak berlangsung selama 30 hari, di musim semi 60 hari, musim gugur 60 hari, dan musim dingin 90 hari.

Tanaman jagung yang terserang larva S. frugiperda akan terlihat memiliki daun menggulung yang sudah berlubang. Tanaman mengalami kehilangan daun karena digerek oleh larva S. frugiperda dan pada bagian daun tanaman terdapat bekas gigitan yang transparan.

Melansir dari cybex.pertanian.go.id, pencegahan hama ulat grayak dapat dilakukan melalui cara-cara berikut.

  • Menggunakan benih yang memiliki daya tumbuh/daya kecambah yang baik.
  • Menggunakan varietas jagung yang tahan terhadap serangan ulat grayak. Misalnya, varietas Lamuru yang digunakan untuk satu lahan.
  • Perhatikan kondisi tanah agar tanaman dapat tumbuh dengan baik dan sehat. Tanaman yang sehat dapat menahan serangan hama dibanding tanaman yang kurang sehat.
  • Perhatikan penggunaan pupuk anorganik. Pupuk anorganik yang tidak seimbang dapat menyebabkan intensitas serangan hama meningkat, teurtama pada penggunaan pupuk nitrogen.
  • Keanekaragaman jenis tanaman di dalam satu lahan untuk mencegah serangan ulat grayak. Cara ini dapat dilakukan dengan metode tumpang sari yang dinilai cukup efektif untuk mengendalikan ulat grayak.
  • Melakukan monitoring secara rutin di lahan untuk mengamati, mempelajari, dan mengambil tindakan yang sesuai. Monitoring sudah bisa dilakukan satu minggu setelah tanam dan dilakukan minimal seminggu sekali. Pada saat monitoring, Anda perlu mengamati kesehatan tanaman, ketersediaan dan kecukupan air di lahan, tanda-tanda serangan ulat grayak, serta kehadiran musuh alami di lapangan.
Baca Juga:  Peran Penting Pohon Pelindung bagi Tanaman Cokelat

Sementara itu, tindakan pengendalian yang dapat dilakukan ialah dengan membunuh larva dan telur ulat grayak dengan tangan, menggunakan agen pengendali hayati, menggunakan biopestisida, serta menggunakan deltametrin, betasiflutrin, dan imidaklorpid.