Kiat Menghasilkan Nila Jantan 100%

Pertanianku — Selama ini nila jantan lebih diinginkan pembudidaya karena pertumbuhannya lebih cepat daripada betina. Bibit jantan memerlukan 4–5 bulan untuk tumbuh hingga ukuran konsumsi berbobot 600 gram. Sementara itu, bibit betina membutuhkan waktu selama 6–7 bulan.

nila jantan
foto: Trubus

Melansir dari Majalah Trubus Edisi September 2017, Muhammad Lutfi bersama Abdurrachman, Afifi Abdurachman, Dede Apriyadi, Meri Alvina Taufik, Siska Aliyas Sandra yang merupakan Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor berhasil menelurkan nila jantan (monoseks). Semua larva yang menetas menjadi nila jantan sehingga pertumbuhannya lebih cepat.

Para periset menggunakan teknologi transplantasi sel testikular. Lutfi melakukan transplantasi melalui pemasukan sel testikular (spermatogonia) ikan nila merah. Mereka menggunakan alat mikroinjektor berbentuk jarum yang sangat kecil untuk menyuntikkan sel testikular pada larva ikan.

Penelitian tersebut dilakukan pada Maret–Juli 2017 menggunakan larva ikan nila hitam karena pertumbuhannya cepat. Telur ikan resipien dibuat menjadi triploid atau steril agar sel yang berkembang di dalam gonad resipien hanya sel yang ditransplantasikan. Caranya, telur diberikan kejut suhu (heat shock) pada wadah dengan suhu 40C selama 4 menit. Telur yang terbuahi akan menetas setelah 3 hari kemudian dan siap dilakukan injeksi.

Proses penyuntikan dinyatakan berhasil karena sel testikular terdeteksi berpendar di dalam larva setelah penyuntikan. Sel di dalam tubuh larva resipien atau penerima pun berkembang. Setelah itu, semua larva yang menetas mampu bertahan hidup 100% dengan membawa sel pengarah kelamin jantan. Penelitian yang dilakukan oleh Lutfi dan kawan-kawan adalah penelitian dasar yang membutuhkan penelitian selanjutnya.

Namun, sebelumnya Tomoyuki Okutus, Yutaka Takeuchi, dan Goro Yoshizaki dari Departemen Kelautan Biosains Universitas Ilmu Kelautan dan Teknologi Tokyo telah membuat ikan monoseks melalui jalan transplantasi. Para peneliti mentransplantasi spermatogonial ikan rainbow trout pada induk salmon. Setelah dua tahun transplantasi, salmon steril terbukti berhasil hanya menghasilkan sperma dan telur trout yang berasal dari donor.

Baca Juga:  Rumput Laut Asal Tual dan Maluku Disiapkan Jadi Komoditas Ekspor

Selama ini pejantan ikan nila masih memanfaatkan hormon pengubah kelamin yakni methiltestosteron. Hormon tersebut diberikan pada fase larva atau saat telur baru menetas. Cara tersebut terbukti efektif, tetapi cukup rumit dan terkadang peternak tidak menggunakan takaran hormon yang tepat (cenderung berlebihan). Padahal, kondisi tersebut dapat menyebabkan banyak residu hormon pada ikan dan lingkungan hidupnya.