Kisah Perjalanan Pala, si Rempah Berdarah


Pertanianku — Anda pasti sudah tidak asing lagi dengan pala. Ya, biji dari rempah ini biasanya sering digunakan sebagai bahan masakan. Daging buahnya bisa dijadikan asinan yang lezat dan menyegarkan. Pala disebut juga rempah berdarah. Kisah perjalanan pala memang cukup panjang.

kisah perjalanan pala
Foto: Pixabay

Pala atau Myristica fragrans merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari Kepulauan Banda, Maluku. Akibat nilainya yang tinggi sebagai rempah-rempah, buah dan biji pala telah menjadi komoditas perdagangan yang penting sejak masa Romawi.

Saat musim dingin tiba, warga Eropa harus menyimpan makanan yang cukup untuk bertahan hidup. Sebab, zaman dulu tidak ada lemari pendingin/kulkas, jadi simpanan daging milik warga Eropa tersebut cepat busuk dan tidak enak dimakan.

Nah, agar tidak cepat busuk, persediaan daging milik warga Eropa harus diberi buah pala. Selain bisa mengawetkan daging, buah pala juga bisa membuat rasa daging lebih enak.

Masyarakat Eropa mendapat buah pala dari pedagang Arab dengan harga yang sangat mahal. Karena takjub dengan manfaat pala itu, mereka akhirnya timbul keinginan untuk mengetahui dari mana buah pala berasal. Tapi sayangnya, pedagang Arab merahasiakan hal itu.

Pedagang Arab mengatakan, buah pala didapatkan dari negeri yang sangat jauh yang berada di dalam hutan dan dijaga monster ganas.

Padahal, buah pala berasal dari Indonesia, tepatnya dari Pulau Banda dan Halmahera. Masyarakat Banda memanen buah pala yang sudah berjatuhan di hutan, kemudian pala itu ditukar dengan keramik yang dibawa pedagang Tiongkok.

Selanjutnya, pedagang Tiongkok menjual buah pala kepada pedagang India dan Arab. Nah, dari pedagang Arab buah pala dibeli oleh raja-raja di Eropa.

Agar bisa menguasai daerah penghasil buah pala, orang Belanda memerangi penduduk Banda. Lalu, orang Spanyol dan Inggris berperang dengan Belanda untuk merebut pasar pala.

Baca Juga:  Alasan Kenapa Harus Beli Sayur dan Buah dari Petani Lokal

Belanda pun memberikan Pulau New Amsterdam (sekarang kota Manhattan di New York) kepada Inggris untuk mengakhiri peperangan. Nah, karena perang inilah buah pala dijuluki rempah berdarah.

Namun seiring perkembangan zaman dan hadir lemari pendingin/kulkas, jadi buah pala tidak terlalu banyak digunakan. Meski begitu, pala tetap menjadi rempah istimewa, karena bisa membuat daging lebih wangi dan enak. Selain digunakan dalam masakan, buah ini juga sering digunakan untuk parfum dan pengharum ruangan.

loading...
loading...