Kisah Sukses Petani Lamongan Berbisnis Pepaya Calina


Pertanianku – Salah satu daerah di Indonesia yang memiliki potensi pertanian yang cukup besar adalah Lamongan, Jawa Timur. Saat ini terdapat komoditas pertanian yang dikembangkan di Lamongan, yakni pepaya calina. Mungkin Anda berpikir kenapa pepaya calina? Hal ini karena pepaya ini memiliki keunggulan dibanding pepaya jenis lainnya. Terlebih, pepaya satu ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi jika dikembangkan skala industri.

kisah-sukses-petani-lamongan-berbisnis-pepaya-calina

Banyak petani di Lamongan yang telah sukses dari hasil berkebun pepaya. Salah satu petani yang telah sukses menjalankan bisnis ini adalah Abdul Qohar, warga Desa Candisari, Kecamatan Sambeng. Saat memulai berkebun pepaya, Abdul Qohar bahkan disebut gila oleh warga desa lainnya.

“Saat pertama menanam pepaya calina sekitar tiga tahun lalu, Saya dianggap gila. Namun waktu membuktikan, kini ada sumber pendapatan baru di luar padi, tembakau, dan jagung,” ujar Abdul Qohar, seperti melansir dari detik.com (29/11).

Kerja keras Abdul Qohar ini akhirnya membuahkan hasil. Kebun pepaya yang pada awalnya ia rintis sendiri, kemudian ditiru oleh petani-petani lain hingga bisa membentuk kelompok tani khusus untuk pembudidayaan pepaya ini.

“Banyaknya kebun pepaya calina yang sukses, membuat petani lain tertarik membudidayakannya,” ujar Abdul.

Abdul mengatakan pada awal pembentukan Kelompok Tani Godong Ijo Sejahtera, mereka hanya beranggotakan 32 orang dari Desa Candisari saja. Kini, anggota kelompok tani yang mengelola pepaya calina ini telah mencapai 112 orang yang tersebar di delapan desa di Kecamatan Sambeng.

“Setidaknya, kini petani memiliki pemasukan setiap minggunya. Karena pepaya ini bisa dipanen dua kali dalam seminggu,” lanjut Abdul.

Bahkan, kerja keras dan kegigihan kelompok petani pepaya di lahan kering ini pun membuahkan hasil manis. Apalagi sejak para petani Candisari bermitra dengan distributor buah-buahan sehingga mereka tidak perlu lagi memikirkan pemasarannya.

Baca Juga:  Mengulik Efek Samping Mahkota Dewa bagi Kesehatan

Hal tersebut membuat Bupati Lamongan, Fadeli, mengunjungi perkebunan pepaya calina milik Abdul Qohar. Sang Bupati sangat takjub melihat hasil karya para petani buah di daerahnya.

Kepada sejumlah Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang menyertai, Fadeli meminta mereka memasukkan perkebunan pepaya dalam Program Gemerlap.

“Keuletan dan inovasi seperti ini yang harus terus didorong dan mendapat perhatian pemerintah daerah. Nanti bisa dibuatkan koperasi, diberikan pelatihan, atau diberikan unit pengolah pupuk organik,” ujar Fadeli.

Sementara itu, distributor buah-buahan yang menjalin mitra petani, Negeri Hijau, melalui CEO Negeri Hijau, Imam Ma’arif mengatakan, dengan total kebun pepaya calina seluas 15 hektare di Kecamatan Sambeng, Lamongan sudah menjadi produsen terbesar ketiga di Jawa Timur.

Pepaya calina itu sangat cocok ditanam untuk lahan kering seperti di Sambeng. Saat berusia 6 bulan 20 hari, Pepaya calina sudah bisa mulai dipanen dan akan terus berbuah hingga berumur tiga tahun kemudian. Karena pepaya calina dari Sambeng sudah memiliki merek dagang, kata Imam, mereka juga membina pemilik kebun untuk menjaga kualitas buah agar sama, meski ditanam di tanah yang berbeda.

Dalam areal seluas seluas 1 hektare, bisa ditanam hingga 1.520 batang pepaya calina. Dalam setiap hektar, menurut Imam, petani bisa mendapat omzet Rp18 juta per bulan

“Jika faktor kegagalan panen bisa ditekan, beberapa petani bahkan bisa meraup Rp20 juta per bulan dari setiap hektar kebun pepaya calina,” ujarnya.

loading...
loading...