KKP Dorong Broodstock Center Perbaiki Kualitas Induk Udang Vaname


Pertanianku – Guna memperbaiki kualitas indukan udang vaname tanah air dengan indukan hasil impor, Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan (BPIU2K) Karangasem, Bali bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong pengembangan broodstock center udang vaname di Indonesia.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, menegaskan hal tersebut saat meninjau langsung instalasi broodstock center udang vaname di Bugbug, Karangasem, Bali.

Ia mengatakan pentingnya perbaikan breeding program sesuai protokol yang ada, guna menjamin kualitas induk dan benih yang memiliki respons yang baik. Dia menggambarkan, untuk menyimpulkan bahwa induk dan benih yang dihasilkan berkualitas, indikasinya adalah tren permintaan di tingkat pengguna.

“Jika tren permintaan induk maupun benih meningkat di tingkat pengguna, artinya kualitas induk dan benih yang kita hasilkan sudah baik,” katanya mengutip Kompas (12/6).

“Kalau performa terkait pertumbuhan, ketahanan terhadap penyakit, dan sifat adaptif dengan lingkungan saat ini, vaname nusantara sudah bisa dikatakan sejajar dengan produk induk impor. Tinggal tingkat keseragaman yang akan terus kita tingkatkan hingga mencapai 100 persen dengan memperketat proses seleksi benih calon induk,” jelas Slamet.

Sementara itu, Kepala BPIU2K Karangasem, Gemi Triastutik, dalam keterangannya membenarkan bahwa saat ini performa induk dan benih yang dihasilkan menunjukkan tren yang lebih baik dan mendapat respons positif dari para pembudidaya pengguna. “Kami bisa jamin bahwa induk dan benih yang keluar telah bebas virus,” tegasnya.

Melalui perbaikan breeding program, saat ini performa induk hasil pemuliaan yang dihasilkan khususnya vaname nusantara (VN-G5) telah membaik. “Jika awalnya survival rate (SR) benih hanya di kisaran 3—5 persen, kini telah mencapai kisaran 30—50 persen. Disamping itu, respons di tingkat pengguna juga cukup baik. Ini terbukti dengan distribusi permintaan, baik induk maupun benih yang semakin luas ke berbagai daerah. Jika dibanding tahun-tahun sebelumnya permintaan naik 30—50 persen,” ungkap Gemi.

Baca Juga:  Kementan Tanam Bawang Putih di Tiga Lokasi Secara Serempak

Ditambahkan Gemi, pada 2017 setidaknya sebanyak 9,5 juta ekor produksi benih telah terdistribusi untuk mensuplai kebutuhan benih antara lain di Provinsi Bali, Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sumbawa, Kota Kendari, Papua, Makassar, Takalar, bahkan ada permintaan ekspor ke Timor Leste. Sementara itu, jumlah induk yang terdistribusi sebanyak 41.468 ekor untuk memenuhi permintaan panti benih yang tersebar di Situbondo, Probolinggo, Tuban, Cilacap, Jepara, Makassar, Gorontalo, dan Lampung.

KKP melalui Ditjen Perikanan Budidaya akan mulai mewajibkan penggunaan induk hasil breeding program ke seluruh panti benih. Ke depan, dijelaskan Slamet, tidak boleh ada lagi penggunaan induk yang berasal dari pembesaran di tambak, karena itu bersifat in-breeding menyebabkan performa turun, di sisi lain akan memicu penyebaran penyakit.

“Pembenih dan pembudidaya harus mulai jeli dalam menggunakan sumber induk dan benih ini. Ke depan kita akan awasi dan keluarkan aturan untuk cegah penggunaan induk yang bukan dari hasil breeding program serta penggunaan benihnya. Ini penting, karena menjadi problem utama kegagalan budidaya udang saat ini,” ungkap Slamet.

loading...
loading...