KKP Inisiasi Teknologi KJA untuk Budidaya Laut Lepas


Pertanianku — Penerapan teknologi budidaya laut lepas pantai (off-shore marineculture) mulai diinisiasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

budidaya laut lepas
Youtube

Tercatat sepanjang 2017, KKP telah melakukan pengembangan budidaya lepas pantai di tiga lokasi, yakni di Kota Sabang, Kabupaten Pangandaran, dan Kepulauan Karimunjawa.

Salah satu teknologi budidaya laut lepas pantai yang diinisiasi KKP adalah teknologi Karamba Jaring Apung (KJA) super intensif. Pemilihan KJA super intensif dilakukan lantaran karakteristik perairan Indonesia yang dinilai sangat cocok untuk pengembangan budidaya laut sistem ini.

Penggunaan teknologi ini diharapkan bakal mendorong optimalisasi pemanfaatan potensi budidaya laut Indonesia. Diketahui, KJA super intensif ini secara keseluruhan mengadopsi teknologi ala Norwegia.

Luas potensi indikatif pengembangan budidaya laut di Indonesia mencapai 12 juta hektare. Dari total potensi itu, luas pemanfaatannya hingga saat ini baru tergarap ± 285.527 hektare atau sekitar 2,36%. Dengan begitu, peluang pemanfaatan ekonomi budidaya laut masih sangat besar dan berpotensi mendongkrak perekonomian nasional.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengatakan, seluruh teknologi yang digunakan dalam program tersebut telah didesain dengan baik. Dengan begitu memungkinkan pengelolaan secara efisien, terukur, dan ramah lingkungan.

“Upaya transfer teknologi ini menjadi penting bagi Indonesia sebagai acuan dalam melakukan pengelolaan budidaya laut secara berkelanjutan dengan nilai tambah ekonomi yang lebih besar,” ujar Slamet, seperti dikutip dari Jitunews, Rabu (13/12).

Budidaya laut lepas pantai ini dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern. Di antaranya, kapal kerja (working vessel) yang dilengkapi dengan crane untuk membantu proses panen dan pemeliharaan KJA.

Selain itu, ada pula feeding barge dan feeding system yang memungkinkan pemberian dan kontrol pakan secara otomatis. Serta, KJA sebanyak 8 (delapan) lubang per unit dengan volume masing-masing 5.100 m3, dan fasilitas penunjang lainnya.

Baca Juga:  3 Kecamatan di Bantul Masih Hadapi Masalah Kekeringan

Melalui pengelolaan sistem produksi yang memadai, per siklus produktivitas budidaya diharapkan hingga 95 ton per lubang. Dengan demikian, KKP menargetkan untuk  menghasilkan produksi ikan kakap putih hingga 2.160 ton per tahun dengan nilai ekonomi mencapai 151,2 miliar.

KKP menggandeng BUMN perikanan sebagai penyangga pasar yang nantinya produk hasil panen segar akan diolah menjadi produk fillet. Tentunya dengan orientasi pasar ekspor ke berbagai negara antara lain Uni Eropa, Amerika, Australia, Jepang, dan Timur Tengah.

“Diversifikasi produk ikan kakap diharapkan secara langsung akan menaikan nilai tambah ekonomi. Dalam tataran perdagangan global, Indonesia mengincar sebagai pemasok utama pangsa pasar kakap dunia,” ujar Slamet.

loading...
loading...