KKP Siapkan Rp14,4 Miliar untuk Kembangkan Budidaya Ikan Lele


Pertanianku – Guna meningkatkan pendapatan masyarakat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengembangkan sentra produksi perikanan. Melalui Direktorat Perikanan Budidaya, KKP berencana bekerja sama dengan masyarakat menjalankan program budidaya ikan lele dengan sistem bioflok. Dengan sistem ini, dinilai lebih bisa menghasilkan produksi yang lebih banyak ketimbang dengan menerapkan sistem konvensional.

Foto: Pinterest

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto mengatakan, total dana yang akan dihabiskan untuk melaksanakan program ini sekitar Rp14,4 milliar. Adapun rincian per paket program sebesar Rp200 juta.

“Dana Rp14,4 miliar akan dialokasikan untuk itu. Tiap paket memakan dana sebesar Rp200 juta,” ujar Slamet di Gedung Mina Bahari IV, Jakarta, Rabu (17/5).

KKP menargetkan sasaran nilai panen dari program tersebut dapat mencapai Rp21,78 miliar, dengan target panen sekitar 1.452 ton. “Tentu kita akan berikan pengawasan dari tim penyuluh untuk memantau sejauh mana perkembangan bantuan ini,” ungkapnya.

Program budidaya lele dengan sistem bioflok tersebut difokuskan kepada pondok-pondok pesantren. Di mana, KKP telah mempersiapkan sebanyak 103 paket bantuan yang akan disebar kepada elemen masyarakat yang telah mendaftar.

“103 itu akan disebar kepada 73 pondok pesantren, 12 kelompok masyarakat, dan 2 lembaga pendidikan di 15 provinsi akan mulai menerima program bantuan ini mulai akhir bulan ini,” papar Slamet.

Terdapat sekitar 73 pesantren yang memperoleh bantuan tersebut di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Papua (Kabupaten Jayapura, Sarmi, dan Wamena), dan Papua Barat.

“Kita sudah mulai lakukan mobilisasi peralatan bioflok ke pondok pesantren mitra. Nantinya program ini akan menyerap tenaga kerja sebanyak 1.030 orang. Dari total 103 paket bantuan, sebanyak 72 paket disalurkan dari pusat sementara 31 paket dari UPT,” tutup Slamet.

Baca Juga:  Mendag Kritik Masyarakat Indonesia yang Konsumsi Ikan Olahan Impor
loading...
loading...