KKP Tegaskan Budidaya Udang Masih Sangat Potensial


Pertanianku — Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Sobjakto, menegaskan bahwa budidaya udang masih sangat potensial untuk dikembangkan. Menurutnya, potensi sumber daya akuakultur Indonesia sangat besar, total luas lahan indikatif mencapai 17,2 juta hektare dan diperkirakan memiliki nilai ekonomi langsung sebesar US$250 miliar per tahun.

budidaya udang masih sangat potensial
Foto: Google Image

Berdasarkan potensi tersebut, khusus untuk pengembangan budidaya air payau memiliki porsi potensi hingga mencapai 2,8 juta hektare. Namun, pemanfaatannya diperkirakan baru sekitar 21,64 persen atau seluas 605.000 hektare, dimana dari luas tersebut, pemanfaatan lahan tambak produktif untuk budidaya udang diperkirakan mencapai 40 persen atau baru 242.000 hektare saja.

“Potensi yang sangat besar itu, jika mampu dimanfaatkan secara optimal akan mendongkrak konstribusi terhadap PDB Indonesia di mana sebagai gambaran tahun 2017 kontribusi sektor ini baru mencapai 2,57 persen terhadap PDB Indonesia,” ujar Slamet, mengutip Jitunews.com, Jumat (14/12).

Ia juga mengatakan, berdasarkan volume produksi, dalam 5 tahun terakhir produksi udang nasional memperlihatkan tren pertumbuhan yang positif dengan pertumbuhan rata-rata per tahun sebesar 15,7 persen. Udang juga merupakan komoditas unggulan ekspor perikanan nasional, selama 5 tahun terakhir (2013—2017) BPS mencatat tumbuh rata-rata 6,43 persen.

Berdasarkan catatan KKP, volume ekspor udang hingga akhir 2018 ini diyakini mampu mencapai 180 ribu ton, naik dari 147 ribu ton pada 2017. Sementara, nilai ekspor naik dari US$1,42 miliar menjadi US$1,80 miliar.

Namun demikian, Slamet tetap mengingatkan bahwa pengelolaan proses produksi budidaya udang harus benar-benar dilakukan secara bertanggung jawab dengan menerapkan prinsip budidaya berkelanjutan (sustainable aquaculture).

“Kita tidak ingin, masa kelam ambruknya bisnis udang windu beberapa dekade yang lalu terulang kembali akibat pola pengelolaan yang tidak terukur dan sporadis. Pola pengelolaan tersebut antara lain lemahnya penerapan biosecurity, penggunaan input produksi yang tidak terukur, dan minimnya pengendalian terhadap limbah budidaya,” katanya mengingatkan.

Baca Juga:  Keunggulan Lele Mutiara Jika Dibudidayakan